dewi
mencabut setangkai panah
hitam
mengusap darah
bagai petani
memetik
menuai padi
dewi
memeluk jasad merah
hitam
beriring rintih
bagai himne
meranggas
mengejar sepi
dewi
mencium tanah nainawa
hitam
menangis sedih
bagai gembel
mengggigil
menunggu pagi
dewi
memakai kain kerudung
hitam
melambai lirih
bagai ombak
menggeliat
mencapai tepi
dewi
menarik lonceng kematian
hitam
mengantar kasih
bagai halilintar
menyambar
memecah mimpi
dewi
membaca sekuntum syair
hitam
meratapi cinta
bagai buhulan
memudar
menjauhi mentari
dewi
memetik sitar tembang
hitam
mengalun pedih
bagai gerimis
menetes
menusuk pori
dewi
merajut samudera pasir
hitam
melabuhkan buih
bagai seniman
melukis
memahat jati
tangisan sang dewi tangisan abadi
rintihhan sang dewi tiada henti
mawar kuning keemasan
berubah
merah…………
berlumur darah
pangkuan sang dewi
dulu wangi kasturi
pangkuan sang dewi
kini penuh darah sosok suci
Wahai hitam…
Mampukah kau rengkuh “hitam” ini
tanpa memerah darah kehidupan
Wahai hitam…
Bisakah kau reguk “hitam” ini
tanpa mencair menjadi air yang segar
Wahai hitam…
Mungkinkah kau emban “hitam” ini
tanpa menjadi putih yang terang menyilaukan
“Hitam” ini begitu legam karena dahsyatnya sinar yang dikandungnya, karena tunaknya gaya yang diembannya, karena rambangnya misteri yang dipikulnya…
(Maaf lancang, tak mampu menanggung ledakan apresiasi. Semoga tak jauh melenceng.)
Aku masih mencoba mengingat-ingat kamu…engkau yang seperti aku kenal di antara celah-celah mentari, bintang dan rembulan itu…
aku masih lupa siapa kamu…
Aku belum kembali pada ingatanku tentang namamu…..
Ku cari namamu di mana-mana tak kutemui ada yang menyebut namamu
Aku datangi buku-buku tua penutur kisah-kisah lama…merekapun tak tahu namamu
Kekalutan semakin menggelayutiku…
Aku ingin tahu siapa kamu, siapa namamu…….
aku tak dapat, sungguh aku tak mampu…..
Aku hanya mampu memandangmu….
Kaupun masih tampak enggan sebut namamu..mengenalkan dirimu padamu
Sungguh aku ingin tahu kamu….
Aku sungguh..bersungguh..sungguh dengan niatku…
Kau tetap membisu…kamu tetap membisu…membuatku kalu..membuatku sendu….
Aku hanya melihatmu….kau selalu bersamaku…..hanya itu…ya..hanya itu ..
lalu,
hitam…
pada hitam
nyata!
Astagfirulah haladzim islam haruslah sabar
Selain biru…. aku juga suka warna HITAM…
Hebat, sungguh indah puisinya. ingin membalas tapi tak bisa ckup menyimak dan meresapi saja, hehehe