<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>ISLAMPROTES - ISLAMPROLETAR</title>
	<atom:link href="http://www.muhsinlabib.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.muhsinlabib.com</link>
	<description>‘LEBIH BAIK NULIS NGAWUR DARIPADA BICARA SENDIRI’</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 Mar 2013 15:59:58 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.5.1</generator>
	<atom:link rel='hub' href='http://www.muhsinlabib.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Apa yang Harus Kita Lakukan?</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/renungan/apa-yang-harus-kita-lakukan</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/renungan/apa-yang-harus-kita-lakukan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 15:59:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9239</guid>
		<description><![CDATA[Tantangan dan potensi gangguan terhadap &#8220;jalan&#8221; ini di masa-masa mendatang tidak akan lebih kecil dari sebelumnya kalau tidak lebih besar. 1. &#8220;Kita&#8221; masih disalahpahami oleh Pemerintah dan aparat keamanan karena tuduhan tak berdasar &#8220;gerakan transnasional&#8221; yang berafiliasi secara ideologis dengan &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/apa-yang-harus-kita-lakukan">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://img.muhsinlabib.com/2013/03/Rahasia-Sukses.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-9240" alt="Rahasia-Sukses" src="http://img.muhsinlabib.com/2013/03/Rahasia-Sukses.jpg" width="448" height="480" /></a>Tantangan dan potensi gangguan terhadap &#8220;jalan&#8221; ini di masa-masa mendatang tidak akan lebih kecil dari sebelumnya kalau tidak lebih besar.<br />
1. &#8220;Kita&#8221; masih disalahpahami oleh Pemerintah dan aparat keamanan karena tuduhan tak berdasar &#8220;gerakan transnasional&#8221; yang berafiliasi secara ideologis dengan sebuah negara nun jauh disana karena data-data yang tidak valid dank arena kcurigaan yang bugil dari fakta. <span id="more-9239"></span><br />
2. &#8220;Kita&#8221; sebagai bagian jalan rasional yang mendeklarasikan dukungan multidimensi terhadap perjuangan rakyat Palestina dan menyatakan diri sebagai bagian dari gerakan kontra hegemoni kapitalis dan neokolonialisme dan liberalisme tak lagi bisa dianggap &#8220;moderat&#8221; dalam kamus Gedung Putih.<br />
3. &#8220;Kita&#8221; yang menjadikan rasionalitas dan spirit Karbla sebagai elan vital telah mengambil risiko berhadapan dengan teologi Horor yang menjadi garda terdepan rezim-rezim despotik Arab melalui aksi-aksi provokasi dan pembodohan umat dan kampanye manipulasi teks agamma demi menghidupkan sentimen sektarian dengan beragam sarana media, dana dan teror.<br />
4. &#8220;Kita&#8221; yang menolak segala bentuk reduksi dan desakralisasi agama, jelas bukan menjadi mitra kaum sekular dan liberalis termasuk yang mengatasnamakan Islam, yang secara terang-terangan menjalankan agenda kekuatan anti Islam.<br />
5. &#8220;Kita&#8221; yang mengalami krisis koordinasi dan menguras energi, pikiran akibat individualisme, figurisme dan yayasanisme yang secara sadar atau tidak sadar membuka celah infiltasi dan upaya-upaya pengadukan dan pengalihan dari priorotas-prioritas.<br />
6. &#8220;Kita&#8221; yang kehilangan momentum-momentum penting yang bisa memantapkan eksistensi sebagai bagian integral bangsa ini akibat polemik-polemik dan kontra polemik sektarian yang samasekali menghambat upaya memberikan kontribusi nyata bagi bangsa ini. Delegitimasi antar institusi dan person menjadi trend dan tradisi.<br />
7. &#8220;Kita&#8221; yang tergopoh-gopoh saat menjadi &#8220;musuh bersama&#8221; akibat provokasi dan kampanye kebencian sistemik karena tidak memiliki posisi tawar yang kuat dalam segala lini strategis, terutama politik.<br />
8.&#8221;Kita&#8221; yang tidak mampu mengedepankan asas&#8221;klarifikasi&#8221; dan &#8220;konfirmasi&#8221; juga &#8220;verifikasi&#8221; dalam dinamika internal sehingga setiap upaya yang dibangun dengan kerelawanan kandas atau tertatih-tatih,karena mengemban beban kritik, tuduhan, cemooh, tuntutan dan beragam ekspektasi tanpa partisipasi inten dan serius dari setiap individu yang merasa bertanggungjawab mengamankan jalan ini.<br />
9. &#8220;Kita&#8221; yang terdiri dari individu-individu yang masing-masing mengambil posisi sebagai &#8220;tamu&#8221;, &#8220;klien&#8221; dan &#8220;juragan&#8221; bahkan &#8220;penggugat&#8221; tanpa merasa perlu untuk menambal apa yang kurang melalui partisipasi dan langkah-langkah terukur.<br />
9. &#8220;Kita&#8221; yang enggan mengintegrasikan diri dalam sebuah entitas yang berwibawa, tangguh, dan siap untukmenerjemahkan &#8220;jalan&#8221; ini dalam konteks kesinian dan kekinian, malah makin menggemu menghidupkan fosik-fosil kebencian tribalisme, rasialisme dan sejumlah isu konyol yang bukan produk &#8220;jalan&#8221; ini.<br />
10. &#8220;Kita&#8221; yang tak menegaskan jatidiri sebagai bagian dari bangsa ini secara aktual dan mempertegas posisi terhadap institusi apapun di luar teritori Ibu Pertiwi. Kita yang belum menunjukkan upaya memformulasi akidah Ahulbait bercitrasa Indonesia dan berwarna Merah Putih.</p>
<p>Karena itu, perlu pementasan peran &#8220;Yunus&#8221; untuk melakukan langkah-langkah baik secara komunal maupun personal demi membuktikan bahwa &#8220;jalan&#8221; ini adalah darah segar bagi Indonesia. Ia adalah berkah bagi bangsa ini, bukan musuh dan bukan monster yang harus dibenci, dikeroyok dan dikirim ke lembah pemusnahan atas nama fatwa segelintir orang yang merasa paling beragama hanya karena kain yang melilit kepalanya atau jubah yang berkibar-kibar di balik punggungnya.</p>
<p>Lalu, apa yang paling logis dan mungkin dilakukan?</p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/apa-yang-harus-kita-lakukan" title="robby yasir walatuasir arabic">robby yasir walatuasir arabic</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/apa-yang-harus-kita-lakukan" title="ayat alquran alahuma yasir walatuasir">ayat alquran alahuma yasir walatuasir</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/apa-yang-harus-kita-lakukan" title="kalau kita kehilangan apa yg kitalukan">kalau kita kehilangan apa yg kitalukan</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/apa-yang-harus-kita-lakukan" title="yang harus kita lakukan untuk membuktikan">yang harus kita lakukan untuk membuktikan</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/renungan/apa-yang-harus-kita-lakukan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perspektif &#8220;Das Sein&#8221;</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 13 Mar 2013 07:29:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[*Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9232</guid>
		<description><![CDATA[Agama dihadirkan demi menciptakan individu dan masyarkat yg kacau menjadi tertib, ataukah dihadirkan utk menjadi aturan bagi individu dan masyarakat yg sudah tertib? Bila agama dihadirkan utk menertibkan individu dan masyarakat yg semula kacau, maka mestinya masyarakat beragama menjadi tertib. &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://img.muhsinlabib.com/2013/03/lalu-lintas.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-9233" alt="lalu lintas" src="http://img.muhsinlabib.com/2013/03/lalu-lintas.jpg" width="400" height="300" /></a></p>
<p>Agama dihadirkan demi menciptakan individu dan masyarkat yg kacau menjadi tertib, ataukah dihadirkan utk menjadi aturan bagi individu dan masyarakat yg sudah tertib? Bila agama dihadirkan utk menertibkan individu dan masyarakat yg semula kacau, maka mestinya masyarakat beragama menjadi tertib.<span id="more-9232"></span></p>
<p>Namun faktnya, masyarakat yg tak beragama bahkan tak percaya lebih tertib. Sedangkan masyarakat yg ingin menjadikan agama yg dianutnya sbg sistem bermasyarakat dan bernaga terbukti tidak tertib.</p>
<p>Bila agama tdk menciptakan individu dan masyarakat tertib, maka hanya dua pilihan: 1. Meninggalkannya krn gagal, 2. Tetap menganutnya meski gagal.</p>
<p>Bila agama dalam kenyataan historis dan faktualnya tidak menciptakan individu dan masyarakat yang tertib dan teratur, dan ditemukan individu dan masyarakat tertib dan teratur di bawah sistem selain agama, maka alasan mengimani agama lenyap.</p>
<p>Bila tetap menganutnya meski gagal, padahal agama secara historis dan factual tidak menciptakan masyarakat yang tertib, maka hanya ada tiga  konsekuensi; 1) Tetap menganutnya sembari menyempurnakannya sendiri dengan pandangan-pandangan di luar agama dengan harapan agar ia relevan dan bisa menciptakan individu dan masyarakat tertib.</p>
<p>Bila tetap menganut agama namun memasukkan pandangan-pandangan non agama di dalamnya demi membuatnya relevan dan efektif menjadi sistem yang menciptakan keteraturan dan ketertiban, maka agama kehilangan kemurniannya. Bila terbukti mampu menciptakan ketertiban dan keteraturan, setelah mengadopsi ide-ide di luar agama, maka ia menjadi sistem non agama.</p>
<p>Bila tetap menganut agama namun mengakui kegagalannnya menjadi sistem yang menciptakan keteraruran dan ketertiban sembari menyalahkan manusia sebagai penyebab kegagalan karena tidak memematuhinya, maka itu berarti agama dihadirakan untuk masyarakat yang telah patuh dan tertib. Bila agama dihadirkan untuk masyarakat yang sudah patuh dan teratur, maka itu berarti keteraturan dan ketertiban tidak dihasilkan dari agama. Bila telah tertib dan teratur tanpa agama, maka alasan untuk menganutnya lenyap.</p>
<p>2) Tetap menganutnya sembari menyalahkan dan menimpakan alas an kegagalan kepada individu dan masyarakat dengan alasan mereka tidak mematuhi agama sehingga tidak menjadi tertib dan teratur. 3) Tetap menganutnya dengan mencari perspektif lain tentang agama.</p>
<p>Ini menjadi deadlock dan jalan buntu bila agama dipandang sebagai das sein, agama sebagai “apa yang terjadi” secara konkret dan faktual.</p>
<p><strong>Perspektif &#8220;Das Sein&#8221;</strong></p>
<p>Namun bila kita mau membuka pikiran dan mulai berani memandang agama sebagai “das sollen”, agama sebagai “yang mestinya terjadi”, maka kita akan mendapatkan perspektif lain yang bisa menyuplai kita alasan rasional untuk tetap menganut agama dengan pandangan baru. Bagaimana penjelasannya?</p>
<p>Tulisan spontan ini insya Allah akan saya sempurnakan berupa artikel yang lebih komprehensif.</p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="das sein das sollen adalah">das sein das sollen adalah</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="kasus das sein">kasus das sein</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="das sain">das sain</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="ruang tamu atau das">ruang tamu atau das</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="pandangan agama tentang kecelakaan lalu lintas">pandangan agama tentang kecelakaan lalu lintas</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="kasus das sain">kasus das sain</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="das sollen kecelakaan lalu lintas">das sollen kecelakaan lalu lintas</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="das sollen">das sollen</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="das sein dan das sollen dalam tinjauan">das sein dan das sollen dalam tinjauan</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein" title="singkat kasus gender">singkat kasus gender</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/agama/perspektif-das-sein/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Paradoks &#8220;Habib Penebar Benci&#8221;</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Mar 2013 13:45:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontroversi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9226</guid>
		<description><![CDATA[&#160; Ironis! Seorang selalu memajang gelar habib malah getol menabur kebencian, menganjurkan orang lain secara terbuka memusuhi kelompok lain dengan modal subjektivitas pemahamannya. Lebih ironis lagi, gelar yang mestinya menghembuskan aroma semerbak cinta kasih malah digunakan sebagai “sertifikat” dan jaminan &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://img.muhsinlabib.com/2013/03/252436_4564838876688_1254245399_n.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-9227" alt="252436_4564838876688_1254245399_n" src="http://img.muhsinlabib.com/2013/03/252436_4564838876688_1254245399_n.jpg" width="720" height="508" /></a></p>
<p>Ironis! Seorang selalu memajang gelar habib malah getol menabur kebencian, menganjurkan orang lain secara terbuka memusuhi kelompok lain dengan modal subjektivitas pemahamannya. Lebih ironis lagi, gelar yang mestinya menghembuskan aroma semerbak cinta kasih malah digunakan sebagai “sertifikat” dan jaminan keabsahan sikap inteloran. <span id="more-9226"></span></p>
<p>Sikap anti kebhinekaan tersebut mengusik   beberapa pihak, termasuk penulis. Pasalnya, penuduh menyandang gelar (non akademik) “habib”. Beberapa kalangan yang juga secara sosiolgis berhak menyandang habib (meski tidak memamerkannya) merasa terusik oleh ulah oknum-oknum yang secara terbuka mengkampanyekan kebencian terhadap sesama warga Indonesia, dengan dalih aliran sesat.</p>
<p>Terlepas dari polemik tentang perlu dan tidaknya sertifikasi dan penataan ulang gelar-gelar sosial keagamaan demi  meminimalisiasi modus eksploitasi untuk kepentingan tak terpuji, yang jelas, kata “Habib” berasal kata dasar al-hubb dalam bentuk kata sifat (ism fa’îl), yang memiliki arti objek (penderita), yang dicintai atau kekasih.</p>
<p>Dalam syair-syair Arab klasik maupun dalam lirik lagu-lagu romantis Arab modern, habib berarti pacar, kekasih dan yang disayang. Dalam tradisi Islam, habib adalah gelar pujian Muslim saat memanggil dan mengucapkan nama Muhammad saw. Muhammad habibullah, kekasih Allah, begitu juga Hasan dan Husain, kedua cucu beliau. Pujian dan pemberian gelar penghormatan ini berlangsung generasi demi generasi, sebagaimana tercermin dalam kasidah-kasidah dan teks-teks maulid.</p>
<p>Karena penghargaan abadi kepada para tokoh Ahlul Bait itulah, setiap alawi atau yang memiliki garis keturunan kepada Ali bin Abi Thalib, yang terbukti membimbing umat juga dipanggil dengan predikat ‘habib.” Ia adalah manifestasi dari harmoni dan relasi cinta yang santun yang terjalin secara natural, bukan hak paten (semacam merek dagang yang dipatenkan). Namun ia adalah atribut yang disandangkan oleh masyarakat.</p>
<p>Secara kebahasaan, al-hubb (cinta) adalah bentuk generik dari al-habb yang berarti inti hati. Kata mahabbah berasal dari kata habbah, yang berarti “benih-benih yang jatuh di padang pasir”. Ia adalah sumber kehidupan; laksana benih-benih yang ditebar di gurun pasir, lalu menyelusup ke dalam tanah kemudian menumbuhkan ilalang untuk dimakan onta dan satwa sahara lainnya. Betapa pun hujan turun mengguyur, matahari menyinari, dingin dan panas menerpa, biji-biji itu tetap lestari, tidak rusak oleh perubahan musim, malah tumbuh, mekar, berbunga, dan berbuah.</p>
<p>Ada yang mengatakan bahwa kata mahabbah yang berasal dari kata hubb, memiliki arti “tempayan yang berisi penuh dengan tenang.” Dikatakan demikian karena cinta memenuhi relung hati dan menghapus lainnya. Kata hubb dapat pula berarti “empat keping kayu pipa air,” karena pecinta dengan sukacita menerima apa saja yang dilakukan sang kekasih terhadap dirinya. Kata mahabbah dapat pula dikaitkan dengan asal kata habab, yang berarti gelembung-gelembung air yang meluap tatkala hujan lebat menyiram dedaunan dan persada, karena cinta merupakan luapan hati yang merindukan penyatuan dengan sang kekasih.</p>
<p>Ujar kebencian, provokasi, dan agresi, yang dilakukan secara sengaja maupun tidak, didasari dengan tujuan mulia maupun nista, bertentangan dengan substansi yang ada di balik kata ‘Habib”, yang berarrti ‘tercinta’ dan ‘pecinta’. Artinya, kitan mesti memberikan atribut sejuk ini kepada yang menebar cinta, bukan kepada yang menjadikan kekerasan dan represi sebagai cara berdakwah.</p>
<p>Menurut sosiolog dan kriminolog dari Norwegia, Johan Galtung, tindak kekerasan (penganiayaan) tidak hanya meliputi pencurian, perampokan, pelecehan dan pembunuhan, tetapi juga kebohongan, indoktrinasi, intimidasi, tekanan, hiperbola dan sejenisnya, yang dilakukan untuk menghasilkan akibat terhalangnya aktualisasi kemampuan potensial mental dan daya pikir seseorang.  Nah , penebar kebencian yang menggunakan agama dan symbol keagamaan bisa dianggap sebagai otak dan biang kekerasan structural di tengah masyarakat. Karena itu, penegakan hukum terhadap kasus kekerasan atas nama agama yang ditujukan kepada sekelompok orang harus dimulai dengan menertibkan dan menjaring orang-orang yang secara terbuka menjadi penggeraknya. Bila tidak, maka kekerasan jenis paling nista ini terulang lagi.</p>
<p>Hati dengan cinta selebar lapangan Senayan akan memandu kita mencegah melakukan kezaliman fisik maupun pikir. Nalar setinggi Monas akan berfungsi sebagai menara pengintai yang online 24 jam sehingga bisa melihat setiap persoalan secara proporsional dan paripurna.</p>
<p>Dengan nalar sehat dan hati yang bugar, kecerobohan sopir mikrolet yang mengakibatkan kecelakaan mesti dilihat sebagai sebuah peristiwa partikular, sebuah fragmen ketidakdisiplinan, bukan kesalahan yang mesti ditimpakan atas semua orang yang kebetulan memiliki kesamaan suku atau daerah dengannya. Nalar, sebagai wahyu inheren, terlalu berharga untuk diganti dengan luapan fanatisme dan kepongahan atas nama agama, suku dan himpunan himpunan artifisial lainnya.</p>
<p>Sungguh menyedihkan, frase yang semestinya menyemburkan semerbak cinta dan menebar kesejukan, malah diakuisisi atau diasosiasikan dengan inteloreransi oleh segelintir orang sama sekali tidak mencerminkan substansi dan maknanya. Itulah paradoks &#8220;habib penebar benci&#8221;.</p>
<p>Semoga prilaku nista tersebut tidak mencoreng para habib lain yang toleran, santun dan cinta persatuan.<strong> </strong></p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="kata motivasi muhsin labib">kata motivasi muhsin labib</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="benci arab">benci arab</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="kata kata kebencian untuk sesama muskim">kata kata kebencian untuk sesama muskim</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="Akibat benci habib">Akibat benci habib</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="paradoks cinta modern">paradoks cinta modern</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="muhsin labib paradoks habib">muhsin labib paradoks habib</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="kata luapan hati karena cinta">kata luapan hati karena cinta</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="Kata kata luapan benci">Kata kata luapan benci</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="Kata habib she cinta">Kata habib she cinta</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci" title="kata benci karena cinta">kata benci karena cinta</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/kontroversi/paradoks-habib-penebar-benci/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Need for Speed</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/budaya-gaya-hidup/need-for-speed-2</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/budaya-gaya-hidup/need-for-speed-2#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 19 Feb 2013 17:25:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Budaya & Gaya Hidup]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9205</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang bertambahnya usia, saya bertekad melakukan beberapa hal baru. Salah satunya adalah berolahraga demi memperkuat jantung dan mengusir lemak yang menumpuk di area perut. Untuk itu, adik saya menyarankan saya membeli alat olahraga, sebuah treadmill dengan perangkat penunjangnya seperti sepatu &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/budaya-gaya-hidup/need-for-speed-2">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://img.muhsinlabib.com/2013/02/fafirru.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-9206" alt="fafirru" src="http://img.muhsinlabib.com/2013/02/fafirru.jpg" width="583" height="265" /></a></p>
<p>Menjelang bertambahnya usia, saya bertekad melakukan beberapa hal baru. Salah satunya adalah berolahraga demi memperkuat jantung dan mengusir lemak yang menumpuk di area perut. Untuk itu, adik saya menyarankan saya membeli alat olahraga, sebuah treadmill dengan perangkat penunjangnya seperti sepatu khusus running, kaos khusus running dan sebagainya.<span id="more-9205"></span></p>
<p>Setelah membayarnya dengan kartu kredit agar bisa mencicil, alat yang lumayan berat itu dua hari kemudian diantar ke rumah. benda elektrik itu sangat canggih karena dilengkapi dengan monitor yang bisa menampilkan angka-angka kalori yang terbakar dan detak jantung, juga tersedia tombol-tombol angka speed dan durasi dan timer.</p>
<p>Cara pengggunaan dan pedoman penggunaannya termuat lengkap dalam buku manual yang tertulis dalam aneka bahasa mayor di dunia. Di dalamnya ada kategorisasi usia dan batas serta jarak waktu penggunaan agar alat ini benar-benar efektif membakar lemak dan menguatkan jantung. Saya pun mulai rajin running meski napas megap-megap. Maklum, bayangan tagihan per bulannya memotivasi saya untuk memanfaatkannya. Puji Tuhan, speed running saya hari demi hari mulai meningkat.</p>
<p>Yang menarik bukanlah alat itu, namun filosofi di baliknya. Treadmill adalah produk atau akibat dari dominasi paradigma ‘kecepatan ladalah yang terpenting’.</p>
<p>Ternyata di zaman ini manusia yang ingin serba cepat dan instan mulai dari makan cepat saji (fast food) dan mie instan sampai tidur cepat dengan cara mengonsumsi pil penidur. Tidak hanya itu, manusia sekarang lebih mementingkan kecepatan lebih dari tujuan di baliknya. Tidak semua orang yang negbut di jalan saat mengendarai mobil atau motor hendak melakukan sesuatu yang mendesak di tempat tujuan. Kadang hanya menginginkan kecepatan, bahkan menikmatinya, malahan tidak bisa melakukannya tanpa ngebut.</p>
<p>Karena ingin cepat langsing dan bugar tanpa harus menghirup udara kota yang padat racun asap dan debu, manusia modern dimanjakan oleh treadmill. Karena tidak betah dengan berlama-lama di dapur, manuia disuguhi fast food. Bahkan karena ingin mendapat kepuasan biologis, manusia modern diberi simulasi seksual dan alat bantu. Wow!!</p>
<p>Manusia dulu lebih mengutamakan seni bekerja keras dan nikmatnya hasil sebuah perjuangan yang memakan waktu, tenaga dan pikiran. Mau makan, ia harus memetik sayur dan menanak lauk dalam rangakain proses pengadaan yang masanya tidak sebanding dengan masa makan itu sendiri. Umumnya manusia pra modern lebih mengutamakan kehati-hatian dan kelembutan ketimbang kecepatan.</p>
<p>Ada dua titik ekstrem yang berkembang menjadi dua cara pandang di tengah masyarakat, yaitu ‘ketekunan’ demi menghasilkan kualitas dan ‘kecepatan’ demi mencapai kuantitas. Mestinya kedua hal tersebut tidak didikotomikan karena cepat dan lamabat memiliki kondisi dan subjek serta kasus yang berbeda. Ada kalanya seseorang mesti bersikap tenang dan menjadi low profile, namun sering pula ia harus segera berinisiatif dan bertindak cepat. Cepat dan lambat (tenang) menjadi baik bila sama-sama menghasilkan produktivitas.</p>
<p>Banyak teks suci dalam al-Quran dan Hadis yang memuat anjuran bersikap tenang dan mendahulukan ‘asas praduga tak bersalah’ seperti perintah untuk tidak menggunakan semata-mata dugaan sebagai dasar untuk bertindak, menghakimi, dan larangan untuk berprasangka buruk dan menjadikan rupa dan raga sebagai dasar penilaian dan sebagainya.</p>
<p>Di samping itu tidak sedikit teks suci dalam al-Qur’an dan Hadis yang menganjurkan kita untuk bertindak cepat. Bertindak cepat menjadi kewajiban dalam kasus-kasus darurat dan tidak bisa dirundingkan apalagi harus mengikuti prosedur administrasi yang mengular.</p>
<p>Allah mewajibkan kita untuk bertindak cepat dengan menengadahkan tangan memohon ampunan saat sadar telah melakukan pelanggaran hukum dan moral. Ia berfirman, “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa” (QS. Ali Imran: 133).</p>
<p>Ini adalah undangan dari atasan yang tidak boleh ditunda-tunda. Bersikap tenang apalagi malas-malasan bisa dianggap sebagai sikap kurang ajar dan tidak menghargai bingkisan sorga.</p>
<p>Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. al-Baqarah: 148)</p>
<p>Tidak hanya diperintahkan untuk tidak menunda, namun juga manusia diperintahkan untuk tidak berjalan menuju Allah, yang dihadirkan dalam bentuk agama dan aturanNya, dengan berlari. “Maka larilah kepada Allah.” (QS. adz-Dzariyat: 50).</p>
<p>Bila dirasa ada beban psikologis atau hambatan, Allah swt memerintahkan kita untuk mengabaikannya. Ringan maupun berat tidak boleh dijadikan sebagai dasar alasan untuk tidak memenuhi panggilan dan perintahnya. “Berangkatlah kamu , baik dalam keadaan ringan ataupun berat dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah . Yang sedemikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS. At-Taubah: 42-38).</p>
<p>Dengan demikian, kita mesti memahami bahwa kita juga memerlukan kecepatan, selain kecermatan dan ketepatan. Manusia muslim yang dinamis yang pantang tertinggal oleh lainnya memang need for speed.</p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/budaya-gaya-hidup/need-for-speed-2" title="alat bantu manusia modern yang belum">alat bantu manusia modern yang belum</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/budaya-gaya-hidup/need-for-speed-2" title="Allahumma yassir wala tu\assir tulisan dlm alqur\an">Allahumma yassir wala tu\assir tulisan dlm alqur\an</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/budaya-gaya-hidup/need-for-speed-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Human Error</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 Feb 2013 15:45:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[akal]]></category>
		<category><![CDATA[al-Qur’an]]></category>
		<category><![CDATA[jadzb]]></category>
		<category><![CDATA[kasyf]]></category>
		<category><![CDATA[khilaf]]></category>
		<category><![CDATA[nabi]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[sunnah]]></category>
		<category><![CDATA[Tasawuf]]></category>
		<category><![CDATA[terminologi]]></category>
		<category><![CDATA[validitas]]></category>
		<category><![CDATA[‘misitisisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9199</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu saya bertemu dengan seseorang di perpustakaan kantor yang kemudian berlanjut dengan obrolan tentang skenario film yang sedang digarapnya. Karena dunia ini adalah hal baru, maka saya kasih pendapat dan saran. Saya juga jadi tergerak membuat novel Tapi &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://img.muhsinlabib.com/2013/02/human-error.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-9200" alt="human-error" src="http://img.muhsinlabib.com/2013/02/human-error.jpg" width="200" height="200" /></a></p>
<p>Beberapa hari lalu saya bertemu dengan seseorang di perpustakaan kantor yang kemudian berlanjut dengan obrolan tentang skenario film yang sedang digarapnya. Karena dunia ini adalah hal baru, maka saya kasih pendapat dan saran. Saya juga jadi tergerak membuat novel Tapi lambat laun arah perbincangan, yang seharusnya mengasyikkan tentang perfilman, menjadi aneh.<span id="more-9199"></span><br />
Tiba-tiba dia melontarkan kata aneh yang menurut saya tidak berhubungan sama sekali dengan judul novel yang saya ceritakan. “Nah, itu berarti berjumlah 1452,” katanya dengan mata menerawang entah ke mana.</p>
<p>“Apanya yang berjumlah segitu?” tanya saya seperti orang geblek.<br />
Karena mendesak untuk mau tahu, dia minta saya menyediakan ruang rapat dengan papan putih untuk menjelaskannya.<br />
“Silakan ke ruang rapat. Di dalamnya ada whiteboard”.</p>
<p>Dalam ruang rapat itu, dia mulai terlihat lemas dan sempoyongan meski berusaha menulis angka-nagka di balik aksara judul draft novel yang saya ceritakan tadi,<br />
“Maafkan saya,” katanya sambil mendesis.<br />
“Lho, anda kenapa? Maag? Perlu saya ambilkan air minum?” tanya saya kaget.<br />
“Ohh.. tidak, tidak apa-apa. Ini biasa. Saya lagi diserang!!!”</p>
<p>Jawaban ini cukup untuk membuat menyimpulkan bahwa saya ketiban sial.</p>
<p>Setelah bersabar lebih dari setengah jam mendengarkan ocehannya yang ngaco mulai dari makhluk-makhluk mistik, saya katakan, “Mas, saya harus kembali kerja”.</p>
<p>“Aduh, gimana ya? Saya minta diizinkan untuk berlindung di kantor ini karena gedung ini termasuk zona netral (maksudnya, mungkin bebas arwah). Di luar sana saya diserang oleh ribuan jin yang hendak menculik Sang Tokoh (mengingatkan saya pada Neo dalam The Matrix),“ selorohnya dengan mata berkedip-kedip dengan kepala rada mendongak.</p>
<p>“Ok, silakan berlindung di pantry saja. Tapi saya tidak bisa berlama-lama di sini meninggalkan kerja,” timpalku seraya meninggalkannya.</p>
<p>Esoknya, staf saya yang lebih dulu mengenalnya menceritakan kronologi di balik kesenewenan temannya itu. Salah satu faktor utama adalah dasar rasional pandangan dunia-nya rapuh, dan ingin meniru Ibnu Arabi dengan cara yang tidak ditempuh Ibnu Arabi. Rupanya perjalanan itu mengalamai kecelakaan akibat human error. Pengemudinya ceroboh.</p>
<p>Karena ingin menyelsaikan masalah-masalah ekonomi dan sosial lainnya dengan jalan pintas, banyak anggota masyarakat awam yang menjadi korban penipuan sekelompok penyihir, tukang sulap dan paranormal yang mengaku bisa mendatangkan mukjizat, karamah atau mampu memperagakan sesuatu yang luar biasa dengan mengusung jargon mistisisme, taswauf, tarikat, hikmah dan sebaginya.</p>
<p>Karena itulah, maka muncul bermacam ritual irasional yang bertentangan dengan hukum-hukum syariat atas nama kasyf, jadzb, khilaf yang dijadikan sebagai syarat bagi pencapaian tingkat tertentu dalam pengalaman mistis dan tasawuf. Boleh jadi, sejumlah prilaku abnormal di tengah masyarakat awam, dianggap sebagai pertanda kewalian.</p>
<p>Tasawuf hakiki dan ‘misitisisme sejati tidak akan pernah menyimpang dari jalan para nabi, wali dan ajaran-ajaran agama samawi. Karenanya, ajaran agama-agama Tuhan, sejarah kehidupan para nabi dan wali haruslah menjadi parameter dan alat ukur bagi ungkapan dan prilaku siapapun seseorang yang mengaku atau diisukan sebagai arif dan sufi sejati. Namun untuk mencermatinya dibutuhkan pengetahuan yang memadai. Karena, setiap orang yang belum membelaki diri dengan pengetahuan yang memadai dan belum bisa mengindentifikasi validitas dan invaliditas sebuah ucapan dan prilaku, bisa diapastikan akan terperangkap dan terperdaya oleh pesona para sufi gadungan itu.<br />
Ada tiga media yang disebut kaum arif untuk membenarkan penyaksian-penyaksian ‘misitisisme i dan bisa membedakan antara ilham-ilham yang datang dari Tuhan dengan bisikan-bisikan syaitaniah. Tiga media tersebut adalah akal, al-Qur’an dan sunnah, atau syariat dan ketiga adalah wali, yaitu wali quthb (sebagai terminologi tasawuf) atau imam (sebagai terminologi ‘misitisisme).</p>
<p>Bila sebuah peristiwa kasyf dikukuhkan oleh tiga media diatas, maka berarti ia adalah kasyf dan penyaksian yang benar dan bersumber dari Yang Benar. Bila tidak, maka ia hanyalah rekayasa atau peristiwa supranatural yang tidak bersumber dari Yang Benar. Semua penyaksian yang bertentangan dengan hukum akal atau hukum syariat adalah pasti batil. Namun tidak berarti peristiwa penyaksian yang relevan dengan keduanya adalah pasti benar. Mungkin saja ada sebuah penyaksian (kasyf) yang tidak berlawanan dengan hukum logika dan syariat, tapi ia tidak dinilai benar secara misitisi.</p>
<p>“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya.” (QS Alahfi: 110).</p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2" title="alahumayasir wala tuasir tulisan alquran">alahumayasir wala tuasir tulisan alquran</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2" title="ayat allahuma yasir walatuasir">ayat allahuma yasir walatuasir</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2" title="contoh perbuatan ifsad">contoh perbuatan ifsad</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2" title="doa sunnah allahumma yassir walaa tuassir tulisan arab">doa sunnah allahumma yassir walaa tuassir tulisan arab</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2" title="makalah human error">makalah human error</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2" title="pandangan dunia muhsin labib">pandangan dunia muhsin labib</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/renungan/human-error-2/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>“Manusia Tapi”</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2013 04:31:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Belum Dikategorikan]]></category>
		<category><![CDATA[absurditas]]></category>
		<category><![CDATA[aksioma]]></category>
		<category><![CDATA[berjuang]]></category>
		<category><![CDATA[fajar]]></category>
		<category><![CDATA[firmannya]]></category>
		<category><![CDATA[keadilan]]></category>
		<category><![CDATA[logika]]></category>
		<category><![CDATA[tapi]]></category>
		<category><![CDATA[Tuhan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9194</guid>
		<description><![CDATA[Percaya pada agama Tuhan tapi menawar firman-Nya… Mengharap keadilan tapi menyepelekan janji-Nya Menentang kezaliman tapi mendekap absurditas meyakini Muhammad, tapi menelikung wekasnya &#160; Menanti fajar, tapi menolak surya… berlagak rasional, tapi meliburkan logika mengaku kritis, tapi menolak aksioma siap berjuang, &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong><a href="http://img.muhsinlabib.com/2013/01/343728914.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-9195" alt="343728914" src="http://img.muhsinlabib.com/2013/01/343728914.jpg" width="500" height="394" /></a>Percaya pada agama Tuhan</strong></em></p>
<p><em><strong>tapi menawar firman-Nya…</strong></em></p>
<p><em><strong>Mengharap keadilan tapi</strong></em></p>
<p><em><strong>menyepelekan janji-Nya</strong></em></p>
<p><em><strong>Menentang kezaliman</strong></em></p>
<p><em><strong>tapi mendekap absurditas</strong></em></p>
<p><em><strong>meyakini Muhammad,</strong></em></p>
<p><em><strong> tapi menelikung wekasnya </strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>Menanti fajar,</strong></em></p>
<p><em><strong>tapi menolak surya…</strong></em></p>
<p><em><strong>berlagak rasional,</strong></em></p>
<p><em><strong>tapi meliburkan logika</strong></em></p>
<p><em><strong>mengaku kritis,</strong></em></p>
<p><em><strong>tapi menolak aksioma</strong></em></p>
<p><em><strong>siap berjuang,</strong></em></p>
<p><em><strong> tapi tinggalkan arena </strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>boros teks,</strong></em></p>
<p><em><strong> tapi pelit makna… </strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>merasa optimis,</strong></em></p>
<p><em><strong>tapi gamang</strong></em></p>
<p><em><strong>berlagak militan,</strong></em></p>
<p><em><strong>tapi gagap konsep</strong></em></p>
<p><em><strong>mengaku relijius,</strong></em></p>
<p><em><strong> tapi benci toleransi </strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>ejakulasi dalam nalar</strong></em></p>
<p><em><strong>gagap dalam wacana</strong></em></p>
<p><em><strong>narsis tanpa riasan</strong></em></p>
<p><em><strong> mabuk oleh ortodoksi </strong></em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em><strong>manusia linglung,</strong></em></p>
<p><em><strong>manusia bingung</strong></em></p>
<p><em><strong>manusia libur nalar</strong></em></p>
<p><em><strong>manusia cuti logika</strong></em></p>
<p><em><strong> “manusia tapi”</strong></em></p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="--------------- Percaya pada agama Tuhan tapi menawar firman-Nya… Mengharap keadilan tapi menyepelekan janji-Nya Menentang kezaliman tapi mendekap absurditas meyakini Muhammad tapi menelikung wekasnya Menanti fajar tapi menolak surya… berlagak rasional ta">--------------- Percaya pada agama Tuhan tapi menawar firman-Nya… Mengharap keadilan tapi menyepelekan janji-Nya Menentang kezaliman tapi mendekap absurditas meyakini Muhammad tapi menelikung wekasnya Menanti fajar tapi menolak surya… berlagak rasional ta</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="makalah aksioma logika">makalah aksioma logika</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="makalah aksioma">makalah aksioma</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="labib demo sampang">labib demo sampang</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="gambar burung merpat ewean">gambar burung merpat ewean</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="firmanNya dalam gambar">firmanNya dalam gambar</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="aksioma rasional adalah">aksioma rasional adalah</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="aksioma logika">aksioma logika</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="aksioma ekonomi islam">aksioma ekonomi islam</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi" title="mengaku kritis miskin aksioma">mengaku kritis miskin aksioma</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/uncategorized/manusia-tapi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>YLBHI: relokasi warga Syiah Sampang bukan solusi</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jan 2013 04:20:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[*Dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Media]]></category>
		<category><![CDATA[News]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9186</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta (ANTARA News) &#8211; Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menilai rencana relokasi terhadap pengungsi warga Syiah Sampang ke lokasi baru bukan penyelesaian persoalan. &#8220;Karena relokasi yang akan dilakukan oleh pemerintah setempat bukanlah sebagai upaya untuk mengakhiri persoalan warga Syiah &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_9187" class="wp-caption alignleft" style="width: 310px"><a href="http://img.muhsinlabib.com/2013/01/20120117adukan-pembakaran-ponpes.jpg"><img class="size-full wp-image-9187" alt="20120117adukan-pembakaran-ponpes" src="http://img.muhsinlabib.com/2013/01/20120117adukan-pembakaran-ponpes.jpg" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Adukan Pembakaran Pondok Pesantren Ketua komunitas Syiah Sampang Ali Murtadha alias Tajul Muluk (kiri) didampingi Ketua Dewan Syuro Ahlul Bait Indonesia Umar Shahab memberikan keterangan pers seusai beraudiensi dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/1). Pertemuan tersebut membahas langkah lebih lanjut terkait insiden pembakaran pondok pesantren yang beraliran Syiah di Dusun Nangkernang, Desa Sumber Gayam, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang, Madura, beberapa waktu lalu, serta nasib sekitar 400 warga yang masih berstatus pengungsi. (FOTO ANTARA/Andika Wahyu)</p></div>
<p>Jakarta (ANTARA News) &#8211; Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menilai rencana relokasi terhadap pengungsi warga Syiah Sampang ke lokasi baru bukan penyelesaian persoalan.<span id="more-9186"></span></p>
<p>&#8220;Karena relokasi yang akan dilakukan oleh pemerintah setempat bukanlah sebagai upaya untuk mengakhiri persoalan warga Syiah Sampang,&#8221; kata Direktur Advokasi YLBHI Bahrain dalam siaran pers yang diterima ANTARA di Jakarta, Selasa malam.</p>
<p>Bahrain mengatakan, warga Syiah Sampang ingin kembali hidup layak sebagaimana sebelum adanya kejadian pembakaran dan penyerangan terhadap rumah-rumah dan perkampungan mereka.</p>
<p>Bahrain menegaskan, kehidupan yang layak merupakan hak dasar warga negara yang sudah diatur dalam konstitusi yakni di Pasal 27 ayat (2) UUD 1945.</p>
<p>&#8220;Dengan demikian Pemerintah Kabupaten Sampang dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur harus memperhatikan konstitusi dalam memperlakukan warga Syiah Sampang sehingga persoalannya segera terselesaikan dan tidak berlarut-larut,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Bahrain, keberadaan Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur No. Kep-01/SKF-MUI/JTM/I/2012 tentang Kesesatan Ajaran Syiah merupakan penyebab ketidakjelasan nasib warga Syiah Sampang.</p>
<p>&#8220;MUI seharusnya tidak sesukanya mengeluarkan fatwa sesat menyesatkan karena sedikit banyak fatwa MUI seringkali dijadikan dasar sebagian umat yang intoleran untuk melakukan aksi kekerasan terhadap umat yang difatwa sesat,&#8221; katanya.</p>
<p>Dalam hukum ketatanegaraan, kata Bahrain, kedudukan MUI sekadar organisasi kemasyarakatan, bukan lembaga negara resmi yang berada dalam struktur ketatanegaraan berdasarkan konstitusi UUD 1945 maupun undang-undang.</p>
<p>&#8220;Maka sangat tak masuk akal kebebasan hak warga negara dalam beragama direduksi oleh fatwa ulama yang notabene tidak termasuk produk hukum yang mengikat publik,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Bahrain, relokasi dan perhatian yang diberikan oleh Pemprov Jawa Timur tidak ada gunanya jika tanpa diiringi dengan pencabutan fatwa MUI, karena secara terus menerus warga Syiah dianggap sebagai pengikut aliran sesat yang harus dijauhi dan pastinya sanksi sosial selalu mengiringi keberadaannya.</p>
<p>&#8220;Dengan demikian rencana relokasi ke tempat yang lebih memanusiakan warga Syiah Sampang bisa dipastikan tidak akan terwujud,&#8221; katanya.</p>
<p>Ia pun mengkritik Gubernur Jawa Timur yang mengeluarkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 55 Tahun 2012 tentang Pembinaan Kegiatan Keagamaan dan Pengawasan Aliran Sesat di Jawa Timur.</p>
<p>&#8220;Pemprov Jawa Timur seharusnya tidak latah dan berpijak kepada amanah konstitusi dalam mengeluarkan kebijakan, karena kedudukan konstitusi merupakan dasar hukum dari segala-galanya di negara Indonesia,&#8221; katanya.</p>
<p>Menurut Bahrain, dengan adanya Pergub No. 55 Tahun 2012, Pemprov Jawa Timur justru menjadi aktor pelanggaran Hak Asasi Manusia terkait jaminan kebebasan beragama dan berkeyakinan sebagaimana yang telah diatur dalam konstitusi di Pasal 28 E ayat (1), pasal 28 I ayat (1), dan pasal 29 ayat (2) UUD 1945.</p>
<p>Sebagai negara hukum dan demokrasi, tentunya negara harus melindungi segenap warga negara Indonesia karena setiap warga negara tanpa terkecuali mempunyai hak konstitusional yang telah dijamin dan dilindungi dalam menganut dan menjalankan agama serta keyakinannya, kata Bahrain.</p>
<p>Oleh karena itu YLBHI mendesak Menteri Dalam Negeri menganulir Pergub No. 55 Tahun 2012 dan mendesak MUI Jawa Timur untuk mencabut fatwa sesat terhadap penganut Syiah.</p>
<p>YLBHI juga mendesak Pemkab Sampang dan Pemprov Jawa Timur untuk lebih memperhatikan kondisi kemanan, kesehatan, keselamatan, dan jaminan atas kebutuhan hidup para pengungsi warga Syiah Sampang.</p>
<p>&#8220;Aparat keamanan agar memberikan jaminan keamanan sepenuhnya kepada pengungsi warga Syiah Sampang,&#8221; kata Bahrain.</p>
<p>Sumber : Antara</p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi" title="kesesatan syiah sampang">kesesatan syiah sampang</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi" title="mengapa pasal 27 yang diatur konstitusi tentang kedudukan">mengapa pasal 27 yang diatur konstitusi tentang kedudukan</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi" title="pasal 27 ayat 2 UUD 1945 membahas tentang kebebasan">pasal 27 ayat 2 UUD 1945 membahas tentang kebebasan</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi" title="upaya hukum relokasi">upaya hukum relokasi</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi" title="uud 1945 pasal 27 ayat 2 merupakan dasar hukum dari">uud 1945 pasal 27 ayat 2 merupakan dasar hukum dari</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/dunia-islam/ylbhi-relokasi-warga-syiah-sampang-bukan-solusi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Launching Sekolah Tinggi Filsafat Islam STFI SADRA</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/agenda/launching-sekolah-tinggi-filsafat-islam-stfi-sadra</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/agenda/launching-sekolah-tinggi-filsafat-islam-stfi-sadra#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2012 13:46:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[*Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9177</guid>
		<description><![CDATA[Launching Sekolah Tinggi Filsafat Islam STFI SADRA &#38; Seminar Internasional &#8220;PERAN FILSAFAT ISLAM DALAM MERAKIT PERADABAN&#8221; bersama Wamen Kementerian Agama, Direktur Diktis dan para pakar Filsafat Nasional dan Internasional, Hari Kamis: 12 Juli 2012, jam 08.30 &#8211; 16.30 di GRAHA &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/agenda/launching-sekolah-tinggi-filsafat-islam-stfi-sadra">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Launching Sekolah Tinggi Filsafat Islam STFI SADRA &amp; Seminar Internasional &#8220;PERAN FILSAFAT ISLAM DALAM MERAKIT PERADABAN&#8221; bersama Wamen Kementerian Agama, Direktur Diktis dan para pakar Filsafat Nasional dan Internasional, Hari Kamis: 12 Juli 2012, jam 08.30 &#8211; 16.30 di GRAHA SUCOFINDO Lt. 2, Jl. Pasar Minggu Jakarta. (mohon disebarkan).</p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agenda/launching-sekolah-tinggi-filsafat-islam-stfi-sadra" title="stfi sadra">stfi sadra</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/agenda/launching-sekolah-tinggi-filsafat-islam-stfi-sadra/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>SEMINAR INTERNASIONAL MAHDAWIYAT</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/agenda-2/seminar-internasional-mahdawiyat</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/agenda-2/seminar-internasional-mahdawiyat#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jul 2012 13:41:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9175</guid>
		<description><![CDATA[Dengan Tema : Mahdiisme, Keindonesiaan dan Persatuan Bangsa. Bersama : Prof. Dr. Hassan Rahimpour Azghadi Prof. Dr. Hanief Saha Ghafur Dr. Haidar Bagir,MA Dr. Muhsin Labib,MA Subhi Ibrahim,MA Hari / Tanggal : Senin, 9 Juli 2012 Jam : 08.00 &#8211; &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/agenda-2/seminar-internasional-mahdawiyat">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dengan Tema : Mahdiisme, Keindonesiaan dan Persatuan Bangsa.</p>
<p>Bersama :<br />
Prof. Dr. Hassan Rahimpour Azghadi<br />
Prof. Dr. Hanief Saha Ghafur<br />
Dr. Haidar Bagir,MA<br />
Dr. Muhsin Labib,MA<br />
Subhi Ibrahim,MA</p>
<p>Hari / Tanggal : Senin, 9 Juli 2012<br />
Jam : 08.00 &#8211; 15.00 WIB<br />
Tempat : Auditorium Nurcholis Madjid, Universitas Paramadina<br />
Jl. Gatot Subroto Kav. 97 Mampang, Jakarta Selatan</p>
<p>GRATIS dan Terbuka Untuk Umum dan TOLONG BANTU DISEBARKAN&#8230;.</p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/agenda-2/seminar-internasional-mahdawiyat" title="tema-tema mahdawiyat">tema-tema mahdawiyat</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/agenda-2/seminar-internasional-mahdawiyat/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Topeng Agama</title>
		<link>http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama</link>
		<comments>http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Apr 2012 16:03:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhsin Labib</dc:creator>
				<category><![CDATA[Intrabangsa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.muhsinlabib.com/?p=9087</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari lalu sebuah harian memuat berita kasus korupsi. Yang menarik bukan beritanya, namun foto tersangkanya. Dia duduk di kursi pesakitan dengan mengenakan busana kyai lengkap dengan selendang peci putih. Wajahnya juga menunjukkan ekspresi “melas” yang bisa menguras iba. Ada &#8230; <a href="http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a>]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div class="wp-caption aligncenter" style="width: 614px"><a href="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/p480x480/536501_3594187891020_1163109407_33607379_1793146338_n.jpg"><img title="Bupati Lamongan" src="http://a4.sphotos.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-ash3/p480x480/536501_3594187891020_1163109407_33607379_1793146338_n.jpg" alt="Bupati Lamongan, tersangka korupsi: bergaya kyai di kursi pesakitan..." width="604" height="453" /></a><p class="wp-caption-text">Bupati Lamongan, tersangka korupsi: bergaya kyai di kursi pesakitan...</p></div>
<p>Beberapa hari lalu sebuah harian memuat berita kasus korupsi. Yang menarik bukan beritanya, namun foto tersangkanya. Dia duduk di kursi pesakitan dengan mengenakan busana kyai lengkap dengan selendang peci putih. Wajahnya juga menunjukkan ekspresi “melas” yang bisa menguras iba.</p>
<p>Ada yang lebih dramatis. Sebagian maling berdasi itu selama masa persidangan memelihara jenggot dan menunjukkan prilaku saleh formal. Para wartawan bodrex pun mengeksposnya sesuai order. Yang lebih menjengkelkan, kadang ada ‘badut-badut’ berpakaian ala ‘superman bersorban’ bersama kru bayarannya menjenguk koruptor yang sedang uzlah di LP atau sel tahanan Kepolisian, bahkan kadang di hadapan kamera mendoakan dan menyatakan dukungan dan simpati.</p>
<p>Rupanya peci dan koko bukan hanya trend musiman saat menjelang pilkada dan pemilu, para terdakwa kasus korupsi uang negara pakai muslihat ‘eksploitasi simbol agama’ seraya berharap mampu mempengaruhi sisi sentimen kagamaan hakim dan menyelamatkan sisa muka yang hancur di tengah opini publik.</p>
<p>Tapi masyarakat kita kini makin cerdas dan tidak mudah dikelabui dengan permainan simbol-simbol agama. Korupsi yang dilakukan oleh siapapun adalah tindakan yang harus diperangi karena ia adalah kejahatan ifsad fil-ardh (perusakan di muka bumi). Karena dampaknya yang sangat luas dan bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa, maka hukuman mati terhadap kasus-kasus besar korupsi adalah balasan yang setimpal.</p>
<p>Syukurlah, gugatan terhadap undang-undang hukuman mati telah ditolak MK. Itu berarti  negara perlu memberikan efek jera dengan menghukum mati kopurtor kakap.</p>
<p>&nbsp;</p>
<h4>Terma pencarian yang masuk:</h4><ul><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama" title="Contoh perbuatan ifsad terhadap lingkungan">Contoh perbuatan ifsad terhadap lingkungan</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama" title="Contoh berbuat ifsad terhadap lingkungan">Contoh berbuat ifsad terhadap lingkungan</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama" title="contoh dan fanatisme agama">contoh dan fanatisme agama</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama" title="contoh ifsad di negara kita indonesia">contoh ifsad di negara kita indonesia</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama" title="contoh peristiwa fanatik di indonesia">contoh peristiwa fanatik di indonesia</a></li><li><a href="http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama" title="pepek mesum">pepek mesum</a></li></ul>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.muhsinlabib.com/intrabangsa/topeng-agama/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- This Quick Cache file was built for (  www.muhsinlabib.com/feed ) in 0.64244 seconds, on May 20th, 2013 at 1:53 am UTC. -->
<!-- This Quick Cache file will automatically expire ( and be re-built automatically ) on May 20th, 2013 at 2:53 am UTC -->
<!-- +++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++++ -->
<!-- Quick Cache Is Fully Functional :-) ... A Quick Cache file was just served for (  www.muhsinlabib.com/feed ) in 0.00082 seconds, on May 20th, 2013 at 1:57 am UTC. -->