Multidimensionalitas Partisipasi dalam Aksi Yaumul Quds

Jumat terakhir Ramadhan adalah hari monumental. Itulah hari yang telah disahkan oleh Imam Khomeini sebagai Hari Internasional Quds. Beliau menyeruakan umat Islam dan seluruh pecinta keadilan untuk turun ke jalan meneriakkan yel-yel anti Zionisme dan sekutunya serta memekikkan dukungan bagi perjuangan rakyat Palestina menghadapi Zionisme yang didukung secara terang-terangan oleh Amerika dan Barat dan didukung secara diam-diam oleh rezim-rezim sekutu AS di Timur Tengah dan Dunia.

Continue reading

Terma pencarian yang masuk:

10 Cara Membantu Hamas-Palestina dan Hizbullah-Libanon

Dengan kemunculan internet, dan karena teknologi menjadikan dunia kita semakin kecil setiap hari, cara-cara baru dan kreatif untuk membantu dan menolong bangsa Palestina muncul juga. Berikut ini merupakan daftar hal-hal yang bisa orang lakukan untuk menunjukkan solidaritas dan dukungan kepada Palestina dan Libanon.

Continue reading

Terma pencarian yang masuk:

“Bocah Misterius”

Beberapa tahun silam saya menemukan di sebuah milis posting menarik dan menggugah bertajuk “Bocah Misterius”. Setiap kali saya publish, respond an comment yang dating sangat banyak. Karena itu saya merasa perlu mempublishnya lagi menjelang Ramadhan yang sangat kita tunggu.

Bocah itu menjadi pembicaraan dikampung Ketapang. Sudah tiga hari ini ia mondar-mandir keliling kampung.

Ia menggoda anak-anak sebayanya, menggoda anak-anak remaja diatasnya, dan bahkan orang-orang tua. Hal ini bagi orang kampung sungguh menyebalkan.

Yah, bagaimana tidak menyebalkan, anak itu menggoda dengan berjalan kesana kemari sambil tangan kanannya memegang roti isi daging yang tampak coklat menyala.

Sementara tangan kirinya memegang es kelapa, lengkap dengan tetesan air dan butiran-butiran es yang melekat diplastik es tersebut.

Pemandangan tersebut menjadi hal biasa bila orang-orang kampung melihatnya bukan pada bulan puasa!

Tapi ini justru terjadi ditengah hari pada bulan puasa! Bulan ketika banyak orang sedang menahan lapar dan haus. Es kelapa dan roti isi daging tentu saja menggoda orang yang melihatnya.

Pemandangan itu semakin bertambah tidak biasa, karena kebetulan selama tiga hari semenjak bocah itu ada, matahari dikampung itu lebih terik dari biasanya.

Luqman mendapat laporan dari orang-orang kampong mengenai bocah itu. Mereka tidak berani melarang bocah kecil itu menyodor-nyodorkan dan memperagakan bagaimana dengan nikmatnya ia mencicipi es kelapa dan roti isi daging tersebut.

Pernah ada yang melarangnya, tapi orang itu kemudian dibuat mundur ketakutan sekaligus keheranan.

Setiap dilarang, bocah itu akan mendengus dan matanya akan memberikan kilatan yang menyeramkan. Membuat mundur semua orang yang akan melarangnya.

Luqman memutuskan akan menunggu kehadiran bocah itu. Kata orang kampung, belakangan ini, setiap bakda zuhur, anak itu akan muncul secara misterius.

Bocah itu akan muncul dengan pakaian lusuh yang sama dengan hari-hari kemarin dan akan muncul pula dengan es kelapa dan roti isi daging yang sama juga!

Tidak lama Luqman menunggu, bocah itu datang lagi. Benar, ia menari-nari dengan menyeruput es kelapa itu. Tingkah bocah itu jelas membuat orang lain menelan ludah, tanda ingin meminum es itu juga.

Luqman pun lalu menegurnya.. Cuma,ya itu tadi,bukannya takut, bocah itu malah mendelik hebat dan melotot, seakan-akan matanya akan keluar.

“Bismillah.. .” ucap Luqman dengan kembali mencengkeram lengan bocah itu. Ia kuatkan mentalnya. Ia berpikir,kalau memang bocah itu bocah jadi-jadian, ia akan korek keterangan apa maksud semua ini.

Kalau memang bocah itu “bocah beneran” pun, ia juga akan cari keterangan, siapa dan dari mana sesungguhnya bocah itu.

Mendengar ucapan bismillah itu, bocah tadi mendadak menuruti tarikan tangan Luqman. Luqman pun menyentak tanggannya, menyeret dengan halus bocah itu, dan membawanya ke rumah.

Gerakan Luqman diikuti dengan tatapan penuh tanda tanya dari orang-orang yang melihatnya.

“Ada apa Tuan melarang saya meminum es kelapa dan menyantap roti isi daging ini? Bukankah ini kepunyaan saya?” tanya bocah itu sesampainya di rumah Luqman, seakan-akan tahu bahwa Luqman akan bertanya tentang kelakuannya.

Matanya masih lekat menatap tajam pada Luqman.

“Maaf ya, itu karena kamu melakukannya dibulan puasa,” jawab Luqman dengan halus,”apalagi kamu tahu, bukankah seharusnya kamu juga berpuasa? Kamu bukannya ikut menahan lapar dan haus, tapi malah menggoda orang dengan tingkahmu itu..”

Sebenarnya Luqman masih akan mengeluarkan uneg-unegnya, mengomeli anak itu. Tapi mendadak bocah itu berdiri sebelum Luqman selesai. Ia menatap Luqman lebih tajam lagi.

“Itu kan yang kalian lakukan juga kepada kami semua! Bukankah kalian yang lebih sering melakukan hal ini ketimbang saya..?! Kalian selalu mempertontonkan kemewahan ketika kami hidup dibawah garis kemiskinan pada sebelas bulan diluar bulan puasa?

Bukankah kalian yang lebih sering melupakan kami yang kelaparan, dengan menimbun harta sebanyak-banyaknya dan melupakan kami? Bukankah kalian juga yang selalu tertawa dan melupakan kami yang sedang menangis?

Bukankah kalian yang selalu berobat mahal bila sedikit saja sakit menyerang, sementara kalian mendiamkan kami yang mengeluh kesakitan hingga kematian menjemput ajal..?!

Bukankah juga di bulan puasa ini hanya pergeseran waktu saja bagi kalian untuk menahan lapar dan haus?

Ketika bedug maghrib bertalu, ketika azan maghrib terdengar, kalian kembali pada kerakusan kalian…!?”

Bocah itu terus saja berbicara tanpa memberi kesempatan pada Luqman untuk menyela.

Tiba-tiba suara bocah itu berubah. Kalau tadinya ia berkata begitu tegas dan terdengar “sangat” menusuk, kini ia bersuara lirih, mengiba.

 “Ketahuilah Tuan.., kami ini berpuasa tanpa ujung, kami senantiasa berpuasa meski bukan waktunya bulan puasa, lantaran memang tak ada makanan yang bisa kami makan. Sementara Tuan hanya berpuasa sepanjang siang saja.

 Dan ketahuilah juga, justru Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan lah yang menyakiti perasaan kami dengan berpakaian yang luar biasa mewahnya, lalu kalian sebut itu menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Bukankah kalian juga yang selalu berlebihan dalam mempersiapkan makanan yang luar biasa bervariasi banyaknya, segala rupa ada, lantas kalian menyebutnya dengan istilah menyambut Ramadhan dan ‘Idul Fithri?

Tuan.., sebelas bulan kalian semua tertawa di saat kami menangis, bahkan pada bulan Ramadhan pun hanya ada kepedulian yang seadanya pula.

Tuan.., kalianlah yang melupakan kami, kalianlah yang menggoda kami, dua belas bulan tanpa terkecuali termasuk di bulan ramadhan ini. Apa yang telah saya lakukan adalah yang kalian lakukan juga terhadap orang-orang kecil seperti kami…!

Tuan.., sadarkah Tuan akan ketidak abadian harta? Lalu kenapakah kalian masih saja mendekap harta secara berlebih?

Tuan.., sadarkah apa yang terjadi bila Tuan dan orang-orang sekeliling Tuan tertawa sepanjang masa dan melupakan kami yang semestinya diingat?

Bahkan, berlebihannya Tuan dan orang-orang di sekeliling Tuan bukan hanya pada penggunaan harta, tapi juga pada dosa dan maksiat.. Tahukah Tuan akan adanya azab Tuhan yang akan menimpa?

Tuan.., jangan merasa aman lantaran kaki masih menginjak bumi. Tuan…, jangan merasa perut kan tetap kenyang lantaran masih tersimpan pangan ‘tuk setahun, jangan pernah merasa matahari tidak akan pernah menyatu dengan bumi kelak….”

Wuahh…, entahlah apa yang ada di kepala dan hati Luqman. Kalimat demi kalimat meluncur deras dari mulut bocah kecil itu tanpa bisa dihentikan.

Dan hebatnya, semua yang disampaikan bocah tersebut adalah benar adanya!

Hal ini menambah keyakinan Luqman, bahwa bocah ini bukanlah bocah sembarangan.

Setelah berkata pedas dan tajam seperti itu, bocah itu pergi begitu saja meninggalkan Luqman yang dibuatnya terbengong-bengong.

Di kejauhan, Luqman melihat bocah itu menghilang bak ditelan bumi.

Begitu sadar, Luqman berlari mengejar ke luar rumah hingga ke tepian jalan raya kampung Ketapang. Ia edarkan pandangan ke seluruh sudut yang bisa dilihatnya, tapi ia tidak menemukan bocah itu.

Di tengah deru nafasnya yang memburu, ia tanya semua orang di ujung jalan, tapi semuanya menggeleng bingung. Bahkan, orang-orang yang menunggu penasaran didepan rumahnya pun mengaku tidak melihat bocah itu keluar dari rumah Luqman!

Bocah itu benar-benar misterius! Dan sekarang ia malah menghilang!  Luqman tidak mau main-main.

Segera ia putar langkah, balik ke rumah. Ia ambil sajadah, sujud dan bersyukur. Meski peristiwa tadi irrasional, tidak masuk akal, tapi ia mau meyakini bagian yang masuk akal saja. Bahwa memang betul adanya apa yang dikatakan bocah misterius tadi.

Bocah tadi memberikan pelajaran yang berharga, betapa kita sering melupakan orang yang seharusnya kita ingat.. Yaitu mereka yang tidak berpakaian, mereka yang kelaparan, dan mereka yang tidak memiliki penghidupan yang layak.

Bocah tadi juga memberikan Luqman pelajaran bahwa seharusnya mereka yang sedang berada diatas, yang sedang mendapatkan karunia Allah, jangan sekali-kali menggoda orang kecil, orang bawah, dengan berjalan membusungkan dada dan mempertontonkan kemewahan yang berlebihan.

Marilah berpikir tentang dampak sosial yang akan terjadi bila kita terus menjejali tontonan kemewahan, sementara yang melihatnya sedang membungkuk menahan lapar.

Luqman berterima kasih kepada Allah yang telah memberikannya hikmah yang luar biasa. Luqman tidak mau menjadi bagian yang Allah sebut mati mata hatinya.

Sekarang yang ada dipikirannya sekarang , entah mau dipercaya orang atau tidak, ia akan mengabarkan kejadian yang dialaminya bersama bocah itu sekaligus menjelaskan hikmah kehadiran bocah tadi kepada semua orang yang dikenalnya, kepada sebanyak-banyaknya orang.

Kejadian bersama bocah tadi begitu berharga bagi siapa saja yang menghendaki bercahayanya hati.

Pertemuan itu menjadi pertemuan yang terakhir. Sejak itu Luqman tidak pernah lagi melihatnya, selama-lamanya. Luqman rindu kalimat-kalimat pedas dan tudingan-tudingan yang memang betul adanya.

Luqman rindu akan kehadiran anak itu agar ada seseorang yang berani menunjuk hidungnya ketika ia salah.

Selamat menjalankan ibadah puasa…..

 (kiriman vendra dj” <cahaya.benings@gmail.com)

Terma pencarian yang masuk:

“Arab, Sebuah Klarifikasi” (Dimuat Jawa Pos Hari ini, Selasa 28 Juni) 2011)

Sekali lagi rasa nasionalisme kita terusik. Sekonyong-konyong kita dihantam oleh berita pemancungan warganegara bernama Ruyati di Arab Saudi atas tuduhan pembunuhan.  Terlepas benar atau tidaknya tuduhan itu, dan bagaimana proses peradilan yang dijalaninya serta alasan-alasan real yang melatarbelakangi tindak pembunuhan itu bila memang terjadi,  berita itu layak mengundang simpati sekaligus kecaman.

Terlepas dari hukum dan sistem peradilan yang dijadikan sebagai justifikasi, mengakhiri hidup seorang manusia melalui pemisahan kepala dan leher (baca: pancung) sendiri bisa dipahami sebagai sebuah fragmen horor. Karena itu, tidaklah salah bila simpati  dalam skala besar pun muncul.

Pada saat yang sama, kecaman juga terbit dari hampir setiap individu. Sebagian besar dialamatkan ke Pemerintah karena dianggap gagal melindungi warganya. Sebagian kecaman juga dialamatkan kepada Pemerintah Arab Saudi. Tidak hanya itu, karena rasa kemanusiaan dan kebangsaan serta faktor-faktor  lainnya, sebagian malah memperluas objek kecaman kepada “Arab”, bahkan tercium aroma penggiringan opini yang berusaha mentautkannya dengan Islam, yang selama ini dipahami sebagai atribut identik Arab Saudi bahkan Arab secara keseluruhan.

Dalam atmosfir histeria yang sangat emosional seperti saat ini, kecaman tidak selalu proporsional, malah cenderung memakan korban yang sama sekali tidak terkait.  Tanda-tanda pembiasan mulai muncul  dan pengalihan subjek persoalan mulai memasuki tahap yang memerlukan klarifikasi.

Namun sungguh tragis dan ironis bila simpati kepada martirdan pahlawan devisa itu, juga dilumuri dengan opini antipati yang salah alamat karena ketidakjelasan istilah dan frase, seperti  Arab Saudi,  Wahabisme, Arab dan Islam. Pemahaman yang minim tentang pola relasi antar  kata tersebut tak ayal akan sangat efektif menimbulkan anarki dalam bentuk pernyataan, sikap dan prilaku. Diperlukan sebuah penjelasan yang objektif, proporsional dan komprehensif tentang hal itu. Bila tidak, maka boleh jadi, logika dan akal sehat akan mengalami cuti panjang, selanjutnya intoleransi  menjadi modus penyikapan terhadap setiap fenomena sosial di tengah kita.

Kasus pemancungan Ruyati yang diklaim sebagai keputusan peradilan Islam memunculkan pertanyaan klasik; apakah Islam identik dengan Arab? Apa pola bentuk relasi antar keduanya?  Bagaimana relasi Arab Saudi sebagai sebuah negara dengan Arab? Untuk bisa memahami persoalan ini secara jernih, diperlukan klarifikasi yang objektif dan proporsional.  Arab dapat dilihat dari tiga aspek; geografi, tribalisme dan linguistik. Analisis demikian juga berlaku bila hendak mendudukkan istilah Yahudi dan lainnya.

Pertama, Arab secara geografi, Arab (baca : Dunia Arab) kini tanah Arab terbentang dari Samudra Atlantik di barat hingga Laut Arab di timur, dan dari Laut Tengah di utara hingga Tanduk Afrika dan Samudra Hindia di tenggara. Dunia Arab terdiri dari 24 negara dan wilayah dengan populasi 325 juta dalam dua benua.

Banyak orang mengira bahwa Arab Saudi identik dan mewakili dengan Arab secara keseluruhan sehingga kadang Arab Saudi disingkat dengan sebutan Arab. Saking meluasnya kesalahkaprahan ini sehingga kadang media massa kadang ikut-ikutan. Kira-kira empat tahun lalu saat penyelanggaraan Final Piala Asia di Senayan sebuah suratkabar menulis di tajuk beritanya, “Timnas Irak Kalahkan Timnas Arab”.

Kedua, Secara linguistik merujuk pada bahasa yang dipakai oleh lebih dari 23 negara yang tergabung dalam Liga Arab.Bahasa ini adalah bahasa resmi dari 25 negara, dan merupakan bahasa peribadatan dalam agama Islam karena merupakan bahasa yang dipakai oleh Al-Qur’an. Berdasarkan penyebaran geografisnya, bahasa Arab percakapan memiliki banyak variasi (dialek), beberapa dialeknya bahkan tidak dapat saling mengerti satu sama lain. Bahasa Arab modern telah diklasifikasikan sebagai satu makrobahasa dengan 27 sub-bahasa dalam ISO 639-3. Bahasa Arab Baku (kadang-kadang disebut Bahasa Arab Sastra) diajarkan secara luas di sekolah dan universitas, serta digunakan di tempat kerja, pemerintahan, dan media massa.

Ketiga, Arab secara kesukuan (tribal), terdiri dari 4 kategori; 1. Baidah (suku yang telah punah) seperti Kaum Aad dan Tsamud,2.  ‘Aribah (asli Arab), berasal dari Himyar dan Qahthan; 3. Musta’ribah (ter-Arabkan), yaitu turunan Nabi Ibrahim dari Ismail yang berhijrah ke tanah Arab dari Mesopotamia. Mereka adalah Bani Hasyim atau Quraisy;  Nabi Muhammad saw adalah keturunan Bani Hasyim yang merupakan marga dalam Quraisy yang berasal dari Ismail yang musta’rib. Itulah ia bisa dianggap Arab sekaligus ajam. Dan karena itu pula, ia bisa diterima oleh semua golongan, baik Arab mau pun non Arab. Dengan universalitas Muhammad, ia digelari Sayyidul Arabi wal ‘Ajami, (Pemimpin bagi Arab dan non Arab). Ini juga  menegaskan bahwa Islam tidak identik dengan Arab. 4. Arab Diaspora, yaitu orang-orang Arab yang bermigrasi keluar dari Dunia Arab, dan kini menetap di Eropa Barat, benua Amerika, Australia dan seluruh penjuru dunia. Diaspora Arab di Indonesia adalah salah satu suku.

Keturunan Arab  di Indonesia umumnya yang berasal dari Hadramaut (Yaman) terdiri 2 kelompok besar yaitu kelompok Alawi, dan kelompok Qabili. Di Indonesia, kadang-kadang ada yang membedakan antara kelompok Alawiyyin yang umumnya pengikut organisasi Jamiat al-Kheir, dengan kelompok Syekh atau Masyaikh yang biasa pula disebut Irsyadi atau pengikut organisasi al-Irsyad.

Arab Saudi dan Wahabisme

Karena Mekah dan Madinah berada dalam kekuasaannya, tidak mengherankan jika banyak orang mengidentikkan Dinasti Saudi dengan Islam dan menganggapnya sebagai representasi dari Islam, bahkan tidak sedikit yang menganggap Islam dan Arab sebagai satu entitas berbeda tampilan. Padahal pandangan demikian jelas salah. Karena itu, saat berita pemancungan Ruyati terdengar, di antara sekian banyak kecaman, ada sebuah kecaman yang dialamatkan kepada Islam dan Arab secara keseluruhan. Yang mungkin perlu diperjelas adalah pola hubungan antara Islam dan Arab dan antara Arab Saudi dan Arab secara keseluruhan.

Untuk memahami dengan jernih Dinasti Saud ini, kita harus memperhatikan ada dua elemen utamanya; yaitu faktor Saud, pendiri Kerajaan Saudi dan Muhammad bin Abdul-Wahab, pendiri teologi Wahabisme.

Hubungan Kerajaaan Saudi dan teologi ortodoks Wahabisme sangat erat, bahkan keduanya bisa dianggap saudara kembar dengan tipologi yang berbeda; yaitu politis dan teologis. Wahabisme (yang biasanya menggunakan nama Salafi) didirikan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb dari keluarga klan Tamîm yang menganut mazhab Hanbali. Ia lahir di desa Huraimilah, Najd, yang kini bagian dari Saudi Arabia, tahun 1111 H [1700 M] Masehi dan meninggal di Dar’iyyah. tahun 1206 H [1792 M.]. Ia sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama besar bermazhab Hanbali bernama Ibnu Taimiyah. Untuk menimba ilmu, ia juga mengembara dan belajar di Makkah, Madinah, Baghdad dan Bashra [Irak], Damaskus {Siria], Iran, termasuk kota Qum, Afghanistan dan India. Di Baghdad ia mengawini seorang wanita kaya. Ia mengajar di Basra selama 4 tahun Tatkala pulang ke kampung halamannya, ia menulis bukunya yang kemudian menjadi rujukan kaum pengikutnya, Kitâbut’Tauhîd . Para pengikutnya menamakan diri kaum Al-Muwahhidûn (para pengesa Tuhan). Ia kemudian pindah ke ‘Uyaynah. Dalam khotbah-khotbah Jumat di ‘Uyaynah, ia terang-terangan mengafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali menjalankan agama seperti di zaman Nabi.

Di kota ini ia mulai menggagas dan meletakkan teologi ultra-puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi. Mula-mula ia menyerang mazhab Syiah, lalu kaum sufi, kemudian ia mulai menyerang kaum Sunni.

Tatkala masyarakat mulai merasa seperti duduk di atas bara, ia diusir penguasa [amîr] setempat pada tahun 1774.Ia lalu pindah ke Al-Dar’iyyah, sebuah oase ibu kota keamiran Muhammad bin Sa’ûd, masih di Najd Tahun 1744 Muhammad bin Suud, amir setempat dan Muhammad bin Abdul Wahhab saling membaiat untuk mendirikan negara teokratik dan mazhabnya dinyatakan mazhab resmi Ibnu Suud sebagai amîr dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb jadi qadi. Ibnu Suud mengawini salah seorang putri Muhammad bin Abdul Wahhab.

Penaklukan-penaklukan dilakukan terhadap para kabilah dan kelompok yang menolaknya, termasuk, Makkah dan Madinah. Tak lama setelah itu bentuk pemerintahan berubah dari emirat menjadi kerajaan bernama Al-Mamlakah Al-Arabiyah As-Su’udiyah sejak tahun 1932 hingga  sekarang.

Pola keberagaman yang rigid dan anti penafsiran inilah yang memperngaruhi sistem penerapan hukum di Saudi yang juga mempengaruhi pola keberagamaan sebagian kelompok Muslim di seluruh dunia yang cenderung anti modernitas dan pluralisme.

Uniknya, Kerajaan, yang menjadikan Wahabi sebagai mazhab resmi, kini menjadi salah satu sekutu terdekat Amerika di Timur Tengah. Bukan rahasia lagi bahwa Negara bisa dianggap sebagai pemimpin blok anti perlawanan militer terhadap Israel dengan dukungan mayoritas Liga Arab yang vis a vis dengan blok pro perlawanan yang dipimpin oleh Suriah dengan dukungan Iran.

Wahabisme telah dikembangkan dengan beragam corak dan pola pendekatan. Alqaeda yang didirikan oleh salah satu konglomerat Saudi merupakan manisfstasi paling ekstrem dari teologi Wahabisme yang skriptural dan anti logika. Karena itulah, sebagian kalangan mencurigai trend ekstremitas atas nama agama yang dirintis oleh Osama bin Laden sejak peristiwa WTC dicurigai sebagai bagian dari hasil kerjasama Amerika dan Kerajaan Saudi demi kepentingan hegemoni.

Kesimpulannya, kasus pemancungan Ruyati, kalaupun benar terbukti bersalah, tidak bisa dilepaskan dari pola keberagamaan ala Wahabi yang rigid dan anti logika. Ruyati dan ratusan wanita-wanita Bahrain yang ditembak oleh peluru tentara Saudi adalah korban ortodoksi dan teologi wahabisme.

Terma pencarian yang masuk:

Makmur dan Hina

Ada empat jenis negara dan bangsa di dunia ini, Pertama, negara makmur namun tidak terhormat. Kedua, negara tidak makmur dan terhormat. Ketiga, negara tidak makmur dan tidak terhormat. Keempat, negara makmur dan terhormat. Continue reading

Terma pencarian yang masuk:

“Teologi Horor” (Pengantar buku “CUCI OTAK NII, Tinta Publisher)

Maraknya berita kekerasan di media mulai dari bentrok antar geng, antar kampung, antar pendukung cabub, tawuran antar mahasiswa dan antar pelajar, teror bom, penyerbuan kelompok minoritas agama maupun intra agama dengan dalil “aliran sesat’ , dan yang terbaru, aksi penyekapan, perampokan dan cuci otak yang dialamatkan kepada Gerakan NII, telah membenamkan kita dalam kebimbangan tentang masa depan bangsa ini. Terlalu bias dan membingungkan untuk ditolak maupun diterima. Opini, rekayasa, dan fakta berbaur menjadi adonan yang tidak nyaman dikunyah.

 

Pola keberagamaan yang bagaimanakah yang bisa meredam potensi konflik dari penghayatan kita terhadap agama itu sendiri? Dan, bagaimanakah cara kita memupuk keyakinan bahwa agama adalah sumber segala nilai dan sesuatu yang selalu dibutuhkan manusia? Perlukah kita menengok kembali ideologi-ideologi tertentu yang jelas-jelas gagal mengantar manusia untuk menemukan The Great Chain Being (Hossein Nasr), padahal, menurut Nasr, ideologi-ideologi semacam komunisme atau saintisme hanya mampu mengantarkan manusia untuk menemukan setengahnya saja dari gambaran dunia?

 

Agama sering dikaitkan dengan fenomena kekerasan, lebih-lebih akhir-akhir ini. Sinyalemen ini disanggah melalui pernyataan apologetis (membela diri), yakni agama mengajarkan perdamaian dan menentang kekerasan; tetapi manusia menyalahgunakan untuk kepentingan pribadi/kelompok sehingga menyulut kekerasan. Padahal, agama baru menjadi konkret sejauh dihayati oleh pemeluknya. Bisakah memisahkan begitu saja agama dari pemeluknya? Orang skeptis terhadap jawaban yang membela diri itu. Orang menyaksikan bahwa agama sering digunakan sebagai landasan ideologis dan pembenaran simbolis bagi kekerasan. Oleh karena itu sulit menjawab pertanyaan, bagaimana agama bisa menjadi dasar suatu etika untuk mengatasi kekerasan. Mungkin, upaya transparansi dalam hubungan antar-agama bisa membantu memberi landasan etika semacam itu.

 

Dalam negara dimana kekerasan sudah menjadi bagian dari struktur dan melembaga sebagai kekuasaan tidak seimbang yang menyebabkan peluang hidup tidak sama antara mereka yang memiliki akses ke kekuasaan dengan mereka yang tidak, tentunya mereka yang meraup keuntungan, baik itu kemenangan politik maupun finansial, yang berupaya keras agar tidak terjadi perubahan berarti. Ketimpangan yang merajalela dalam hal sumber daya, pendapatan, kepandaian, pendidikan, serta wewenang untuk mengambil keputusan mengenai distribusi sumber daya hendak terus dipertahankan. Selagi kekuasaan untuk memutuskan hanya dimonopoli oleh sekelompok orang saja, mereka berupaya untuk mempertahankan status quo itu sedapat mungkin. Ideologi dan subyektifitas seringkali menjadi alasan pembenaran atau justifikasi legitimasi untuk menindak keras pihak yang ingin mengganggu dan mencoba mengutak-utik status quo. Orde keteraturan diterapkan dan disokong dari semua lini yang dimiliki negara, merangsek ke seluruh elemen kehidupan, memiliterisasi sipil sedemikian rupa sehingga korporatisme negara mengebiri masyarakat.

 

Dalam sejarah Islam kekerasan struktural (negara) terus terjadi sejak Nabi wafat mulai dari pembunuhan karakter para sahabat Nabi yang kritis, seperti pengasingan Abu Zar, pembantaian Malik bin Nuwairah at-Tamimi bersama warga sekampungnya dengan dalih “murtad karena tidak membayar zakat”, juga pembantaian paling biadab yang dialami Al-Husain dan para pengikutnya di Karbala hingga ekspansi-ekspansi militer  atas nama “penyebaran Islam” ke wilayah-wilayah Jazirah Arabiyah, seperti ke Persia dan Andalusia.

 

Sejarah mencatat betapa banyak darah dialirkan dalam proses itu. Anehnya, tidak sedikit orang yang membanggakan itu sebagai bagian dari sejarah kejayaan Islam. Para khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbas, yang korup, cabul dan rasis, malah sering dipuja sebagai ikon-ikon utama keagungan Islam.

 

Bila kita berani mengamati secara objektif sejarah mazhab-mazhab Islam, maka kita akan dengan mudah menemukan kekerasan telah dipatenkan sebagai bagian dari doktrin dan dianggap sebagai citra kesalehan dan relijiusitas. Kaum Khawarij yang dianut oleh para tekstualis dengan cirri-ciri fisik tertentu, seperti dahi hangus karena banyak bersujud, telah menjadi gerombolan paling bengis yang mencari pahala sorga dngan menggorok leher sesama Muslim. Pembunuhan Ali bin Abi Thalib dianggap sebagai prestasi kesalehan yang paling dibanggakan oleh mereka. Pembantaian para penganut Syiah dan  Mu’tazilah serta para sufi dan filosof Muslim juga yang dilakukan oleh para penguasa Islam terlalu benderang untuk ditutup-tutupi. Lahirnya konsep “taqiyah” tak dapat dipisahkan dari trauma sejarah yang kelam itu. Tidak hanya itu, buku-buku ulama mainstream menjadi tebal karena hanya berisikan hujatan dan vonis in absentia terhadap pandangan-pandangan Syiah, taswauf, filsafat dan Mu’tazilah. Umat Islam telah dijadikan sebagai keranjang yang tidak pernah mengenal etika “hak jawab”, “objetivitas”, “komparasi” dan “dialog”. Semuanya telah dikuduskan, dan karenanya, setiap upaya mengkritisinya dianggap sebagai kesesatan dengan beragam atribut, seperti “zindiq”, “rafidhah”, “bathiniyah” dan “pemuja akal”.

 

Di abad modern pun, kekerasan tidak makin lenyap, namun sebaliknya menjadi kian kuat. Berdirinya kerjaaan atas nama satu keluarga di Hijaz adalah bukti nyata akan lestarinya teologi kekerasan dalam umat Islam.

 

Teologi kekerasan yang dianut para teroris ini adalah teologi Wahhabi yang didirikan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb dari keluarga klan Tamîm yang menganut mazhab Hanbali. Ia lahir di desa Huraimilah, Najd, yang kini bagian dari Saudi Arabia, tahun 1111 H [1700 M] Masehi dan meninggal di Dar’iyyah. tahun 1206 H [1792 M.]. Ia sangat terpengaruh oleh tulisan-tulisan seorang ulama besar bermazhab Hanbali bernama Ibnu Taimiyah yang hidup di abad ke 14 M. Untuk menimba ilmu, ia juga mengembara dan belajar di Makkah, Madinah, Baghdad dan Bashra [Irak], Damaskus {Syria], Iran, termasuk kota Qum, Afghanistan dan India. Di Baghdad ia mengawini seorang wanita kaya. Ia mengajar di Bashra selama 4 tahun

 

Ketika pulang ke kampung halamannya ia menulis bukunya yang kemudian menjadi rujukan kaum pengikutnya,  Kitâbut’Tauhîd . Para pengikutnya menamakan diri kaum Al-Muwahhidûn (para pengesa Tuhan). Ia kemudian pindah ke ‘Uyaynah. Dalam khotbah-khotbah Jumat di ‘Uyaynah, ia terang-terangan mengafirkan semua kaum Muslimin yang dianggapnya melakukan bid’ah [inovasi], dan mengajak kaum Muslimin agar kembali menjalankan agama seperti di zaman Nabi. Di kota ini ia mulai menggagas dan meletakkan teologi ultra-puritannya. Ia mengutuk berbagai tradisi dan akidah kaum Muslimin, menolak berbagai tafsir Al-Qur’ân yang dianggapnya mengandung bid’ah atau inovasi. Mula-mula ia menyerang mazhab Syiah, lalu kaum sufi, kemudian ia mulai menyerang kaum Sunni

 

Tatkala masyarakat mulai merasa seperti duduk di atas bara, ia diusir penguasa [amîr] setempat  pada tahun 1774.Ia lalu pindah ke Al-Dar’iyyah, sebuah oase ibu kota keamiran Muhammad bin Sa’ûd, masih di Najd Tahun 1744 Muhammad bin Su’ûd, amir setempat  dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb saling membaiat untuk mendirikan negara teokratik dan mazhabnya dinyatakan mazhab resmi  Ibnu Su’ûd sebagai amîr dan Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb jadi qadi. Ibnu Su’ûd mengawini salah seorang putri Muhammad bin ‘Abdul Wahhâb.

 

Kini AS dan zionisme tanpa koordinasi dengan rezim Saud telah mengembangkan teologi horor sebagai kartu dan alat tekan melalui organisme baru dengan sistem dan jaringan yang mirip dengan CIA. Nama Alqaeda muncul sebagai kekuatan siluman tanpa batas negara. Ia menjadi cek kosong yang bisa diisi oleh siapapun dengan frase-frase agama yang mudah diasosiasikan dengan Islam. Kekuatannya membentang mulai dari Afrika hingga Asia, dengan ragama nama, seperti Taliban, Jamaat Islami, Jundullah, Anshar Tauhid, Sepah Sahabah. Prestasi-prestasi mereka tidak ditemukan di Gaza atau Palestina, tapi di masjid-masjid minoritas Syiah di Peshawar hampir setiap Jumat terutama di Muharram, di Irak dan seluruh dunia Islam.

 

 

Di Indonesia, kekerasan struktural atas nama agama yang dillakukan oleh kelompok-kelompok di Indonesia juga kian mencolok. Ada yang seenaknya melakukan razia dan ‘main hakim’ sendiri dengan dalih amar makruf dan nahi munkar. Ada yang melakukan kegiatan militer dengan mengirim pasukan berseragam ke wilayah-wilayah konflik SARA, seperti Maluku dan Poso dengan dalih berjihad. Ada yang gemar mengkafirkan dan menjatuhkan ‘fatwa mati’ atas setiap orang yang mengeluarkan pendapat yang berbeda dengan pandangan keagamaannya. tentang agama Ada pula yang secara berencana melakukan provokasi untuk membumihanguskan pemukiman muslim, sekolah dan pemakaman minoritas, seperti yang terjadi di Pekalongan dan  Bangil.

 

Lahirnya kelompok-kelompok fundamentalis yang cenederung menggunakan ‘kaca mata kuda’ dalam memahami teks agama semestinya harus disikapi secara tegas oleh negara, para pemuka agama, para intelektual dan bseluruh elemen masyarakat demi mengantisipasi terjadinya anarkisme dan chaos yang tak pelak akan membuat bangsa ini makin terpuruk.

Eskalasi kekerasan yang begitu tinggi dalam beberapa tahun terakhir, sejatinya harus dilihat sebagai pelajaran berharga bagi masyarakat beragama, bahwa agama belum berfungsi secara maksimal untuk meredam kekerasan. Karena itu, kita, terutama para pemuka agama harus aktif mengangkat doktrin-doktrin sintesis yang menghendaki perdamaian. Memang, deskripsi keagamaan selama ini belum memberi perhatian serius pada “teologi perdamaian”.

 

Semua agama jelas-jelas menolak kekerasan secara definitif. Ia tidak pernah diterima sebagai prinsip bertindak. Kekerasan senantiasa amoral karena selalu mengandaikan pemaksaan kehendak, dan karenanya melanggar asas kebebasan dalam interaksi sosial. Padahal, manusia bebas secara moral. Ia punya kemampuan untuk bebas menentukan setiap pilihannya. Tapi, persoalan hubungan keduanya justru terletak pada pertimbangan-pertimbangan etiko-religius untuk mempraktikkan kekerasan. Ironisnya, dalam perspektif itu, kekerasan tak lagi dinamai kekerasan melainkan jihad, atau amar makruf dan nahi mungkar, dan sejenisnya. Hal ini makin rumit jika ia dipraktikkan dengan legitimasi etiko-religius, atau sekedar dengan label agama demi ambisi-ambisi non-religius.

 

Bila kekerasan struktural yg membawa jargon agama tidak ditentang secara masif, maka kita akan memasuki babak kehidupan yang sangat mencekam. Indonesia yg kaya krn heterogenitas akan jadi “negeri horor”. Gerombolan2 berjubah dg palu vonis “sesat” gentayangan dimana2.Mimbar-mimbar jadi pusat komando pembantaian. Kaum minoritas jadi sasaran adu ketangkasan membabat atas nama jihad dan amar ma’ruf.

Bayangkan bila negoisasi digusur oleh konfrontasi, wacana diganti teror, dan dialog dengan fatwa mati!

Terma pencarian yang masuk:

“Melantik Tuhan”

Penafsiran umum tentang “la syarikalahu” (tiada sekutu bagiNya) adalah bahwa Tuhan tidak punya sekutu, tidak punya rival, tidak punya pasangan, tidak punya kembar dan sebagainya. Namun bila ditelisik secara lebih mendalam, penyekutuan Tuhan bisa dilakukan secara tidak sadar mana kala kita memberikan sifat-sifat makhluk kepada Tuhan atau memperlakukan Tuhan sebagai makhluk, seperti melakukan predikasi secara serampangan, membingkainya dalam kategori-kategori, membingkainya dalam kombinasi subjek dan predikat dan “melantik” makhluk sebagai tuhan secara tidak sadar dengan memberikan sifat-sifat kesempurnaan tanpa penjelasan dan justifikasi ontologis yang argumentatif. Continue reading

Terma pencarian yang masuk:

Watak Agresi Presiden-presiden Amerika

Ini menjadi semacam adendum tidak tertulis dalam deskripsi kerja Presiden AS: Nyatakan perang! Di mana pun. Bagaimanapun.

Bagi Presiden Ronald Reagan pada 1986, ini adalah serangan familiar terhadap musuh yang familiar pula–Muammar khadafi. Reagan mengumumkan bahwa AS akan mengambil tindakan pada 14 April 1986.

“Meskipun kami sudah memperingatkannya berulangkali, Khadafi tetap melanjutkan kebijakan intimidasinya, upaya-upaya terornya tanpa henti,” kata Reagan dalam pidatonya kepada publik AS. “Dia (Khadafi) menganggap Amerika akan pasif. Anggapannya itu salah.”

Rupanya, begitu juga yang terjadi terhadap Saddam Hussein. Menurut Presiden George HW Bush dalam pidatonya di televisi pada 16 Januari 1991, perang terhadap Saddam dilakukan tanggapan atas konflik yang telah dimulai pada Agustus 1990, “ketika diktator Irak itu menginvasi tetangganya yang kecil dan tak berdaya.”

“Dua jam lalu, angkatan udara sekutu mulai menyerang sasaran-sasaran militer di Irak dan Kuwait,” demikian kata Bush Senior dalam pidatonya.

Bagi penggantinya Presiden Bill Clinton, target itu Slobodan Milosevic, Presiden Serbia dan Yugoslavia.

“Rakyat Amerika, saat ini angkatan bersenjata kita bergabung dengan sekutu-sekutu NATO kita dalam serangan udara terhadap pasukan Serbia bertanggung jawab atas kebrutalan di Kosovo,” kata Clinton pada 24 Maret 1999.

Presiden George W Bush mengatakan pada Maret 2003 bahwa perang atas Irak dilakukan karena ada senjata pemusnah massal yang mengancam dunia, dan serangan akan dilakukan dalam waktu singkat dan terbatas.

“Atas perintah saya, pasukan koalisi telah mulai menyerang sasaran-sasaran militer terpilih dan penting untuk melemahkan kemampuan Saddam Hussein dalam berperang,” kata Bush.

Banyak rakyat Amerika berpikir bahwa semua ini akan berakhir di sana, terutama setelah sikap anti-perang yang ditunjukkan Presiden Barack Obama dalam kampanyenya.

Tapi sekarang…

Obama berbicara sehari setelah Dewan Keamanan PBB meloloskan resolusi untuk memberlakukan zona larangan terbang di atas Libya. Dia mengatakan resolusi itu seruan untuk mengakhiri kekerasan di Libya.

Dia mengatakan bahwa resolusi itu telah “memberikan kewenangan bagi penggunaan kekuatan dengan komitmen eksplisit untuk melakukan semua tindakan yang diperlukan dalam menghentikan pembunuhan, dan menegakkan zona larangan terbang di atas Libya.”

Setidaknya ada dua kesamaan mencolok berkaitan dengan penggunaan kekuatan oleh para presiden AS:

1. tidak pernah dalam rangka merespon serangan militer, atau bahkan ancaman serangan, terhadap AS sendiri;

2. tidak pernah perang yang dinyatakan secara resmi.

(Ditulis oleh Jemala Gemala dengan” Presiden-presiden AS: Perang…Perang! Di mana pun”, Bagaimanapun. dalam Blog Berita Alternatif)

Terma pencarian yang masuk: