Anugerah “Siksa”

Pagi itu Badrud, salah satu mahasiswa yang belakangan ini menunjukkan prilaku tidak lazim karena terlalu sering melakukan kontemplasi mistik tiba-tiba meminta waktu untuk berbincang. Sambil menyusuri jalan di sekitar Pasar Minggu, dia meminta saya memperhatikan pertanyaannya. “Mengapa Allah mewajibkan manusia bersusah payah menyiksa diri dengan puasa?” tanyanya. Sekilas itu pertanyaan yang sangat umum. Tapi bila memperhatikan raut wajahnya yang terlihat serius, saya menduga dia menantikan jawaban yang berbeda dari apa yang biasanya diberikan oleh para ustadz di televisi. Aku terdiam sejenak sambil membiarkan pikiranku terbang memasuki liberary memoriku.

Setiap penghuni alam semesta adalah makhluk. Ia hadir sebagai ciptaan, sadar maupun tidak. Predikat “makhluk” disandang secara natural (takwini). Setiap entitas nyaris mematuhi hukum kemakhlukan “Sunnatullah” dari makhluk mineral dengan cirri khasnya hingga makluk hewani dengan ciri khasnya. Masing-masing bergerak dan mengikuti aturan yang berlaku secara determinan. Mereka semua patuh dan tak dapat mengelak dari konsekuensi natural.

Kepatuhan ini bersifat universal, bagi alam itu sendiri dan semua yang mengisinya. Rahmat Allah sebagai sistem yang meliputi setiap entitas kosmik meliputinya tanpa membedakan sisi kehambaannya. Bila alam bergerak dan berproses, maka siapapun yang berada di dalamnya akan menerima akibatnya. Gempa dan semua proses natural tak lain adalah fenomena yang menkonfirmasi hukum kemakhlukan.

Hanya sebagian dari penghuni alam yang diberi tugas tambahan, yaitu kehambaan. Manusia dan jin adalah makhluk yang dituntut untuk melaksanakan tugas kehambaan. Kehambaan adalah hukum yang dibebankan kepada manusia, karena ia telah dilengkapi dengan kehendak, akal sehat dan ikhtiar.

Pemuda asal pulau Madura ini masih menunggu jawaban saya. “Begini. Sebelum mewajibkan puasa dan perintah lainnya, Allah memberi kita kemampuan melakukan dan tidak melakukannya. Setelah diberi, Allah menghendaki manusia menggunakan kemampuan itu. Lalu Allah menetapkan peraturan yang mengikat dan mengurangi kebebasannya dengan kemampuan dan kehendaknya.

Pada saat itu ada sekelompok manusia yang bersedia mengurangi kebebasannya dengan mematuhi aturan-aturan itu, dan ada pula sekelompok manusia yang tidak bersedia mengurangi kebebasannya. Saat itu Allah akan memberikan kasihnya kepada kelompok itu. Yang bersedia membatasi kebebasannya dengan mematuhi aturan-aturanya, diberi rahmat berupa ganti rugi kebebasan yang sudah dikuranginya. Sedangkan yang tidak bersedia membatasi kebebasannya dengan tidak mematuhi aturan-aturan itu diberi rahmat berupa ganti untung kebebasan yang telah dinikmatinya. Lalu masing-masing lebur dalam rahmatNya dengan dua manifestasiNya.

Kelompok pertama telah melaksanakan tugas kemakhlukan dan kehambaan dan karenanya diganjar dengan pahala berganda rahmat yang panas dan sejuk (menghangatkan) karena ia menghimpun rahmat Jalaliyah dan rahmat JamaliyahNya. Sedangkan kelompok kedua hanya melaksanakan tugas kemakhlukan hanya mendapatkan rahmat Jalaliyah, rahmat yang panas.

Pahala dan siksa adalah dua rahmat yang berbeda pola. Allah memasukkan yang patuh sebagai makhluk dan hamba dalam kasihNya yang berganda, yaitu rahmat yang sejuk dan panas. Dan Ia memasukkan yang hanya patuh sebagai makhkuk dalam kasih yang tunggal, yaitu rahmat yang panas (cahaya, api). Neraka tak lain adalah rahmat yang dihadirkan dalam bentuk suhu tinggi yang membakar laron-laron yang bersaing meraihnya. Sorga adalah rahmat yang dihadirkan dalam bentuk suhu rendah yang membekukan semut-semut yang berjuang untuk tenggelam di dalamnya.

Api melumerkan anai-anai yang memutuskan untuk lenyap dalam cintanya yang membara. Madu menenggelamkan (membekukan) semut yang memutuskan utuk mengalami perfeksi dan transsubtansi sebagai madu.

Cinta dapat dipahami sebagai peleburan subjek dan objek bak semut yang meleburkan diri dalam laguna madu seraya menganggap dirinya madu. Cinta dapat pula dipahami sebagai peniadaan subjek dalam diri objek laksana anai-anai yang memusnahkan diri dalam api (cahaya) sembari menganggap dirinya tiada. [IT/ML]

Minta Maaf kepada Istri Dapat Memperpanjang Umur

Bagi seorang pria mungkin terkadang gengsi untuk meminta maaf kepada pasangannya, bila melakukan kesalahan yang menyakiti pasangan.

Tapi sebenarnya, meminta maaf kepada istri atau pasangan memiliki dampak positif bagi kesehatan Pria.

Sejumlah peneliti Amerika Serikat, seperti dilberitakan DailyMail, mengungkapkan bahwa, meminta maaf pada istri dapat memperpanjang umur.

Lantas, apa hubungan antara meminta maaf dengan umur panjang?

Hubungannya, dengan meminta maaf seseorang akan merasa lebih rileks dan terhindar dari stress.

Seseorang yang terhindar dari stress dapat terhindar dari resiko kerusakan jantung.

Detak jantung Pria yang merasa bersalah dan tak mau meminta maaf pada pasangan akan lebih cepat 20 kali.

Setelah mereka meminta maaf maka detak jantung dan tekanan darah akan kembali normal.

Peneliti tersebut, melakukan riset pada sekira 29 pria dan 59 pria dengan memeriksa tekanan diastolik pada darah.

Tekanan diastolik merupakan ukuran tekanan pada darah selain sistolik. tekanan diastolik yang tinggi dapat terhubung dengan resiko penyakit stroke.

Hasil penelitian lain juga menunjukkan, bahwa tekanan diastolik perempuan lebih cepat kembali normal ketimbang pria, setelah meminta maaf. “Hasil penelitian menunjukkan, neminta maaf memiliki manfaat bagi kesehatan,” ujar salah seorang peneliti.

Nah, mulai sekarang, bersediakah para pria meminta maaf pada pasangan Anda?. (www.suaramedia.com)

Cara Unik Meminta Maaf kepada Istri

67289_1645577616981_1163109407_31825418_6302163_n

 

 

 

Pria satu ini mungkin bisa dicontoh buat para suami yang ingin meminta maaf atas kesalahan yang dibuat terhadap sang istri. Walau terlihat sedikit lebay tapi boleh juga untuk diterapkan untuk meluluhkan hati istri.

Seorang suami bernama Muhammad Al-Jaghbeez memberi kejutan terhadap istrinya dengan membuat sebuah spanduk sepanjang lima meter untuk mengutarakan permintaan maaf terhadap istrinya yang baru pulang kerja.

Kejadian unik ini terjadi di Yordania, menurut Jaghbeez – istrinya yang bernama Iman telah menggugat cerai terhadapnya setelah istrinya menyatakan bahwa ia sakit hati terhadap perilaku dan kata-kata yang dilakukan oleh Jaghbeez.

Namun Jaghbeez merasa ia tidak dapat bertahan tanpa istri tercintanya itu, terinsprirasi oleh sebuah sinetron Turki yang sedang populer di dunia Arab, Jaghbeez berinisiatif untuk membuat permintaan maaf dengan membuat spanduk sepanjang lima meter dan lebar delapan meter dan dipajang di depan kantor tempat istrinya bekerja.

Tertulis kata-kata rayuan gombal dalam spanduk tersebut; “Sayangku, temanku, istriku, dan ibu dari anakku”. “Saya meminta maaf dari dasar hati yang paling dalam atas segala kesalahan yang telah saya lakukan padamu. Saya berjanji di masa mendatamg kamu akan hidup bersamaku dengan penuh kasih sayang dan penghargaan seperti masa-masa awal pernikahan kita dulu.”

Iman sang istri bekerja sebagai pegawai pada maskapai penerbangan Yordania Airlines, sangat terperanjat sewaktu ia keluar dari kantornya melihat suaminya beserta spanduk besar terpampang serta diiringi sebuah band yang memainkan musik.

“Saya sangat terkesan dan saya berharap ini pernah terjadi sebelumnya,” ujarnya.

Namun, Iman meminta waktu dua hari baginya untuk berpikir menarik kembali gugatan cerai terhadap suaminya tersebut.

“Saya tidak bisa memutuskan saat ini dan sekarang saya telah mengambil keputusan menggugat cerai setelah tiga tahun masa pernikahan dengannya,” kata Iman dengan penuh emosi kepada AlArabiya.

Jaghbeez menambahkan bahwa ia tidak akan pernah lupa bagaimana istrinya dulu begitu mencintainya dan menekankan bahwa dia akan tetap serta selalu mencintai dan menghormati istrinya.

“Apa yang saya lakukan tidak hanya untuk istri saya,” tambahnya.”Ini adalah pesan untuk setiap suami agar bisa menghormati istri dan menyadari bahwa perceraian adalah keputusan yang sangat kritis bagi pasangan suami istri, anak dan keluarga akan menjadi korban.” (fq/aby/http://www.eramuslim.com/)

Catatan: Kita mungkin tergolong lelaki yang jarang meminta maaf kepada istri… Padahal boleh jadi setiap hari kita menzaliminya…

Reborn

Hampir saja kebahagiaan mudik kami sekeluarga berubah menjadi bencana. Mobil yang kami tumpangi saat memasuki sebuah kota di Jawa Timur nyaris dihantam oleh truk pengangkut para gerombolan yang melakukan “pawai takbiran”, yang karena euforia lebaran, peraturan lalu lintas diabaikan.

Untunglah, sopir kami sigap menepikan mobil ke bahu jalan. Alhamdulillah, kami selamat sampaidi kota kelahiran sempat merayakan Idul Fitri di rumah induk, tempat nenek kami menjadi “target sungkem”.

Takbir adalah tageline yang terdiri atas subjek “Allahu” dan predikat“akbar” (“maha besar” atau “lebih besar dari apapun”). Premis ini menampati posisi yang sangat penting dalam Islam, karena menjadi password dalam shalat, yang merupakan ekpresi lahiriah sebuah pengakuan akan kehambaan. Takbiratul-ihram berarti pengagungan (glorifying) yang menegaskan “cekal” (cegah dan tangkal) dari selain Allah.

“Allâh” adalah salah satu kata yang disebutkan dalam al-Qur’an sebanyak 980 kali, sebagaimana lafzh “ilâh” dalam beragam bentuknya (yakni dalam bentukilâh, ilâhan, ilâhuka, ilâhukum, ilâhunâ) 147 kali.

Sebagian ahli sejarah bahasa dan filologi beranggapan bahwa kata Allah berasal dari bahasa Ibrani, bukan Arab. Konon, orang-orang Yahudi biasa berkata ilahâ, lalu orang-orang Arab menghapus mad (bacaan panjang) pada akhir kata tersebut. Sebagian berpendapat bahwa kata Allah berasal dari bahasa Arab karena orang-orang Arab telah menggunakan kata ini beberapa abad sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW. Bangsa Persia menyebut-Nya khudâ dan îzad. Bangsa Turki menyebut-Nya târî. Dalam bahasa Indonesia disebut Tuhan atau Hyang. Apapun sebutannya, yang terpenting adalah substansi pemahamannya, yaitu zat yang eternal, tak berawal dan tak berakhir. Para filosof bahkan menyebutnya “Kausa Prima”.

Para ulama berselisih pendapat tentang artinya. Sebagian berpendapat bahwa Allah berasal dari kata uluhiyah yang berarti ibadah, yang mana ta’alluh mengandung arti ta‘abbud. Sebagian berpendapat bahwa kata Allah berasal dari kata dasar (walah),yang berarti tahayyur (kebingungan). Ada pula yang berpendapat bahwa kata Allah berasal dari kata kerja (alaha)yang berarti (fazi‘a)yang berarti permohonan pertolongan dan perlindungan saat dicekam rasa takut. Sekelompok ahli bahasa lain beranggapan bahwa kata Allah berasal dari kata kerja (lâha)yang artinya ihtajaba (terhijab) karena angan-angan dan imajinasi manusia tidak mampu menggapai esensi-Nya. Selain itu, masih banyak pendapat tentang artinya.

Ragam penafsiran tentang asal usul bahasanya juga kontroversi seputar artinya menunjukkan betapa takbir memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam.

“Allahu akbar” adalah kata yang paling menyenangkan di malam terakhir bulan Ramadhan. Setiap masjid, surau dan mushalla berlomba mengumandangkan takbir dengan nada dan irama khas lebaran. Meski sebagian suaranya fals, bagai dalam acara audisi untuk lomba nyanyi di telivisi, para pengumandang takbir lebaran tampak berusaha mengerahkan semua potensinya dan dan “menggeber” pita suaranya demi menyemarakkan malam yang dianggap sebagai awal “lahir ulang” (reborn) itu.

Takbir di Indonesia ternyata mengalami revisi, improvisasi, modifikasi dan bahkan remix.Kadang “Allahu akbar” tidak menggetarkan, malah menggoyangkan. Kadang “Allahu akbar” tidak menyejukkan, malah menyeramkan. Ironis, sebagian Muslim memberangus hak Muslim lain dengan teriakan “Allahu akbar”.

Setidaknya, ada beberapa tipe takbir. Salah satunya adalah “takbir tradsional” yang dikumandangkan pada malam lebaran hingga menjelang shalat id melalui pengeras suara masjid dan surau. Ia lebih mirip lagu wajib tahunan. Kedua adalah takbir yang belakangan mulai sering diteriakkan dengan nada sangat keras sebagai alat tekan terhadap kelompok lain. Biasanya, pemekiknya menggunakan atribut organisasi massa atau majelis taklim. Takbir tipe kedua ini bisa diberi nama “takbir horor”. Tidak disarankan mengkritiknya, demi alasan kesehatan. Takbir tipe ketiga adalah jenis takbir yang mengambil posisi ekstrem dari takbir tipe kedua, yaitu “Allahu akbar” yang telah di-remix dengan sentuhan rap, house music dan dangdut yang hot. Takbir, yang juga dinyanyikan terutama pada malam lebaran ini bisa dikategorikan “takbir genit.”

“Allahu akbar” semestinya dipekikkan dengan hati dan akal sebelum dipekikkan dengan lidah dan mulut. Makna sejati takbir adalah kesadaran akan ke-serba-terbatasan yang meniscayakan kerendah-hatian dan kesantunan.

Karena hanya Dia yang besar, maka siapapun tidak berhak membesarkan ego, organisasi, kelompok dan pandangannya. Allah berfirman, “Fala tuzakku anfusakum. Huwa a’lmu bil-muttaqin”(Jangan sok suci. Dia lebih tahu tentang siapa yang bertakwa) . Mohon maaf lahir dan batin.

Rintihan Batin Gelandangan di Malam Lebaran

Ya Allah, aku menggigil diterpa angin malam saat jalanan mulai tampak sepi. Sesekali kulihat orang yang senasib denganku, tampak bersandar lunglai di tepi trotoar seberang sana. Separtinya dia bernasib lebih baik dariku karena kulihat kardus alas tidurnya masih lebih utuh dari milikku. Bajunya pun tampak belum seberapa lusuh, utuh tanpa sobekan, beda dengan baju compang-camping yang sudah entah berapa lama melekat di tubuhku. Maklumlah, dia memang tergolong ‘pendatang baru’ yang sejak tiga hari lalu mulai bergabung dengan komunitasku.

Ya Allah, meski esok hari kota ini akan kembali bising seperti biasa, dan akan membuatku terasingkan di tengah hiruk-pikuk orang yang lalu-lalang, melenggang tenang tanpa memandangku, namun aku lebih menyukainya daripada malam-malam panjang yang sepinya terasa menyiksaku, anginnya menusuk pori-poriku. Belum lagi mimpi-mimpi suramnya yang memaksa datang tanpa kuundang. Lintasan bayangan tentang kampung halaman, tentang wajah layu dan mata sembab istriku yang memaksa pergi jauh dariku. Karena dia merasa tak ingin menjadi bagian penambah bebanku?

Ya Allah, aku yakin saat ini Engkau sedang memperhatikanku, menunggu sejauh mana aku merawat ketabahanku. Maafkan aku yang terkadang tak mampu menyembah-Mu dengan cara sepantasnya sebagaimana orang-orang lain menyembah-Mu, karena untuk buang air saja aku tak mampu membayar. Bagaimana mungkin aku duduk-duduk di dekat orang-orang yang bersih, wangi, dan terlihat ‘suci’ itu? Dengan tubuh dekil berkeringat tak sedap, mana mungkin mereka mau berbaris satu shaf denganku di masjid-Mu?

Ya Allah, kumanfaatkan waktu yang sepi ini untuk berbincang dengan-Mu, tapi maafkan bila bahasaku tak seindah para mubalig dan ustad-ustad di TV. Mungkin aku belum dapat menangis, karena untuk sekedar meneteskan air mata, aku perlu tenaga. Sementara tubuhku sudah beberapa hari ini belum juga menemukan pengobat rasa laparnya

Ya Allah, maafkan aku bila di hati ini seringkali menyeruak kebencian terhadap orang-orang, terkadang rasa dengki pun menghampiri jiwaku. Ditambah lagi prasangka buruk terhadap orang yang selalu memandangku dengan tatapan merendahkan. Kuharap Engkau sudi memaafkanku karena deretan dosa-dosa itu.

Ya Allah, aku tidak merasa perlu untuk membuat daftar permintaan, karena permintaanku tak terlalu banyak. Apalagi, toh Engkau pun sudah tahu. Kepada-Mu aku hanya ingin meminta.

Ya Allah. Jangan kiranya Kau jadikan aku sebagai pengemis pula di akhirat nanti. Karena kuyakin Engkau akan meminta pertanggungjawaban hamba-Mu sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya. Aku tahu tidak Engkau jadikan aku miskin karena kehendak-Mu, tapi aku harus menjadi miskin karena tak mungkin dunia hanya dihuni oleh orang-orang kaya. Tanpa aku yang miskin, mana mungkin akan berguna sebutan bagi si kaya? Itulah sebabnya kuambil porsi itu.

Ya Allah, kau larang manusia meminta kepada selain-Mu, tapi ketika kutengadahkan tangan di pinggir jalan, tak kuanggap pelempar rupiah ke arahku adalah pemberi hakiki, tapi kuyakini bahwa pastilah tangan mereka digerakkan oleh kekuatan-Mu. Aku tak punya keahlian memetik-metik gitar untuk menyanyikan lagu-lagu merdu bak pengamen jalanan, atau bakat penyair untuk membaca puisi dengan gaya seru. Itulah mengapa aku tak mengikuti jejak pengamen keplok bersuara syahdu, tidak pula mengekor penyair amatir yang melantunkan puisi dengan wajah sendu.

Ya Allah, aku tetaplah seorang lelaki biasa yang tersiksa rindu. Tapi tak kusalahkan istriku yang telah pergi jauh entah kemana. Andai dia hidup bersamaku, mana mungkin kubiarkan dia tidur di kolong jembatan layang, di dekat trotoar beraroma kencing gelandangan dan anak-anak jalanan?

Ya Allah, aku yakin Kau ciptakan aku bukan cuma sebagai beban penambah sibuk para petugas sensus, melainkan pengingat bagi orang-orang tamak pemangsa hak. Aku yakin Kau jadikan aku pengemis agar kutempuh jalan Ayyub, agar ada orang-orang yang mendapatkan pahala sedekah, kepedulian, perhatian dan rasa iba. Kuposisikan diriku disitu?

Ya Allah, aku tak perlu menggambarkan betapa dramatis dan berlikunya jalan kehidupanku, betapa pilu dan meremukkan hati warna deritaku, karena kuyakin penglihatan-Mu pastilah tak dapat dibandingkan dengan tajamnya kamera CCTV.

Ya Allah, aku tak tahu pasti, apakah besok aku kan masih hidup dan bertemu matahari pagi. Bila tiba waktuku bertemu dengan-Mu, sebagaimana aku bangga memiliki pemimpin seperti Ali, gabungkan pula aku dengan Abu Dzar, Ammar, Miqdad, seperti bergabungnya para budak dan pahlawan tanpa nama dalam kafilah Al Husain.

Ya Allah, malam ini, takbir bergema dan membisingkan angkasamu, namun angkasa batinku lebih sunyi dari hari-hari kemarin. Hiburlah kami dengan elusan kasih dan pendar cahayaMu agar esok kami kuasa untuk berdiri dan menjadi penonton kegembiraan orang-orang yang tidak senasib dengan kami.

Ya Allah, meski tak mengenakan busana baru dan bersih, kami masih ingin punya hati yang bersih dengan ketakwaan kepadaMu. Kepada siapa, kami mesti mengucapkan Minal aidin wal faizin?

Rintihan Batin Tuna Wisma di Malam Lebaran

IMG_46047688835034Ya Allah, aku menggigil diterpa angin malam saat jalanan mulai tampak sepi. Sesekali kulihat orang yang senasib denganku, tampak bersandar lunglai di tepi trotoar seberang sana. Separtinya dia bernasib lebih baik dariku karena kulihat kardus alas tidurnya masih lebih utuh dari milikku. Bajunya pun tampak belum seberapa lusuh, utuh tanpa sobekan, beda dengan baju compang-camping yang sudah entah berapa lama melekat di tubuhku. Maklumlah, dia memang tergolong ‘pendatang baru’ yang sejak tiga hari lalu mulai bergabung dengan komunitasku.

 

 

Ya Allah, meski esok hari kota ini akan kembali bising seperti biasa, dan akan membuatku terasingkan di tengah hiruk-pikuk orang yang lalu-lalang, melenggang tenang tanpa memandangku, namun aku lebih menyukainya daripada malam-malam panjang yang sepinya terasa menyiksaku, anginnya menusuk pori-poriku. Belum lagi mimpi-mimpi suramnya yang memaksa datang tanpa kuundang. Lintasan bayangan tentang kampung halaman, tentang wajah layu dan mata sembab istriku yang memaksa pergi jauh dariku. Karena dia merasa tak ingin menjadi bagian penambah bebanku?

Ya Allah, aku yakin saat ini Engkau sedang memperhatikanku, menunggu sejauh mana aku merawat ketabahanku. Maafkan aku yang terkadang tak mampu menyembah-Mu dengan cara sepantasnya sebagaimana orang-orang lain menyembah-Mu, karena untuk buang air saja aku tak mampu membayar. Bagaimana mungkin aku duduk-duduk di dekat orang-orang yang bersih, wangi, dan terlihat ‘suci’ itu? Dengan tubuh dekil berkeringat tak sedap, mana mungkin mereka mau berbaris satu shaf denganku di masjid-Mu?

Ya Allah, kumanfaatkan waktu yang sepi ini untuk berbincang dengan-Mu, tapi maafkan bila bahasaku tak seindah para mubalig dan ustad-ustad di TV. Mungkin aku belum dapat menangis, karena untuk sekedar meneteskan air mata, aku perlu tenaga. Sementara tubuhku sudah beberapa hari ini belum juga menemukan pengobat rasa laparnya

.

Ya Allah, maafkan aku bila di hati ini seringkali menyeruak kebencian terhadap orang-orang, terkadang rasa dengki pun menghampiri jiwaku. Ditambah lagi prasangka buruk terhadap orang yang selalu memandangku dengan tatapan merendahkan. Kuharap Engkau sudi memaafkanku karena deretan dosa-dosa itu.

Ya Allah, aku tidak merasa perlu untuk membuat daftar permintaan, karena permintaanku tak terlalu banyak. Apalagi, toh Engkau pun sudah tahu. Kepada-Mu aku hanya ingin meminta.

Ya Allah. Jangan kiranya Kau jadikan aku sebagai pengemis pula di akhirat nanti. Karena kuyakin Engkau akan meminta pertanggungjawaban hamba-Mu sesuai dengan kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya. Aku tahu tidak Engkau jadikan aku miskin karena kehendak-Mu, tapi aku harus menjadi miskin karena tak mungkin dunia hanya dihuni oleh orang-orang kaya. Tanpa aku yang miskin, mana mungkin akan berguna sebutan bagi si kaya? Itulah sebabnya kuambil porsi itu.

Ya Allah, kau larang manusia meminta kepada selain-Mu, tapi ketika kutengadahkan tangan di pinggir jalan, tak kuanggap pelempar rupiah ke arahku adalah pemberi hakiki, tapi kuyakini bahwa pastilah tangan mereka digerakkan oleh kekuatan-Mu. Aku tak punya keahlian memetik-metik gitar untuk menyanyikan lagu-lagu merdu bak pengamen jalanan, atau bakat penyair untuk membaca puisi dengan gaya seru. Itulah mengapa aku tak mengikuti jejak pengamen keplok bersuara syahdu, tidak pula mengekor penyair amatir yang melantunkan puisi dengan wajah sendu.

Ya Allah, aku tetaplah seorang lelaki biasa yang tersiksa rindu. Tapi tak kusalahkan istriku yang telah pergi jauh entah kemana. Andai dia hidup bersamaku, mana mungkin kubiarkan dia tidur di kolong jembatan layang, di dekat trotoar beraroma kencing gelandangan dan anak-anak jalanan?

Ya Allah, aku yakin Kau ciptakan aku bukan cuma sebagai beban penambah sibuk para petugas sensus, melainkan pengingat bagi orang-orang tamak pemangsa hak. Aku yakin Kau jadikan aku pengemis agar kutempuh jalan Ayyub, agar ada orang-orang yang mendapatkan pahala sedekah, kepedulian, perhatian dan rasa iba. Kuposisikan diriku disitu?

Ya Allah, aku tak perlu menggambarkan betapa dramatis dan berlikunya jalan kehidupanku, betapa pilu dan meremukkan hati warna deritaku, karena kuyakin penglihatan-Mu pastilah tak dapat dibandingkan dengan tajamnya kamera CCTV.

Ya Allah, aku tak tahu pasti, apakah besok aku kan masih hidup dan bertemu matahari pagi. Bila tiba waktuku bertemu dengan-Mu, sebagaimana aku bangga memiliki pemimpin seperti Ali, gabungkan pula aku dengan Abu Dzar, Ammar, Miqdad, seperti bergabungnya para budak dan pahlawan tanpa nama dalam kafilah Al Husain.

Ya Allah, malam ini, takbir bergema dan membisingkan angkasamu, namun angkasa batinku lebih sunyi dari hari-hari kemarin. Hiburlah kami dengan elusan kasih dan pendar cahayaMu agar esok kami kuasa untuk berdiri dan menjadi penonton kegembiraan orang-orang yang tidak senasib dengan kami.

Ya Allah, meski tak mengenakan busana baru dan bersih, kami masih ingin punya hati yang bersih dengan ketakwaan kepadaMu. Kepada siapa, kami mesti mengucapkan Minal aidin wal faizin?

Butterfly Effect

Terdapat dua hukum bagi manusia di dunia ini yakni; hukum kemakhlukan dan hukum kehambaan. Sebagai makhluk, manusia juga makhluk lainnya harus tunduk pada hukum alam yang disebut hukum takwini. Hukum kedua adalah hukum kehambaan. Manusia juga harus mematuhi hukum kehambaan ini yang berupa logika, etika dan agama dimana akal adalah sumbernya.

Banyak orang mengkaitkan kesalehan dengan kepatuhan kepada hukum kehambaan yang vertikal seraya mengabaikan/menafikan hukum kemakhlukan. Kebanyakan kaum Muslim mungkin bisa dianggap mematuhi hukum kehambaan seperti shalat, puasa dan sebagainya kemudian mereka dianggap “saleh”. Sedangkan kaum sekuler terutama para aktifis lingkungan mungkin terlihat lebih mematuhi hukum kemakhlukan dibanding kaum relijius. Bencana alam seperti banjir bukanlah akibat dari pelanggaran hukum kehambaan melainkan akibat dari hukum kemakhlukan. Itulah dosa horisontal, kezaliman natural.

Mukmin seharusnya tidak hanya saleh dalam kehambaan tetapi juga saleh dalam kemakhlukan. Kesalehan teologis haruslah seimbang dengan kesalehan kosmologis. Membuang bangkai tikus di jalan, membuang sampah di tempat umum, parkir mobil di trotoar adalah contoh kezaliman horizontal. Kezaliman horisontal bisa berganda bila area efeknya sangat luas dan mengganggu banyak objek: mineral, tetumbuhan, hewan dan sebagainya.

Misalnya seseorang memarkir mobil di trotoar karena ingin mengambil uang di ATM. Juki, orang miskin yang kebetulan melintas di atas trotoar tersebut terpaksa harus turun ke jalan aspal karena terhalang dan malangnya tertabrak , gegar otak dan pingsan. Juki kemudian diangkut ke Rumah Sakit dan hanya diberi obat penghilang rasa sakit. Ia pulang, pendarahan dan akhirnya wafat. Sementara orang yang tadi memarkir mobilnya di trotoar usai memgambil uang di ATM kembali dan sambil lalu melihat seseorang (Juki) dibopong ke angkot lalu masuk ke mobilnya dan jalan begitu saja. Pemarkir itu mengira dia cuma melakukan pelanggaran sepele padahal dialah penyebab kematian tersebut, dialah penyebab seorang wanita menjanda dan anak-anak menjadi yatim.

Kadangkala ketika kita hanya menarik ujung bibir, orang lain menjadi optimis dan memperoleh semangat hidup baru. Sebaliknya, kadang dengan hanya memonyongkan bibir, petaka menimpa. Kadang dengan hanya menyusun beberapa huruf / reply serampangan, hati orang lain terluka. Kadang juga dengan me-retweet, kesadaran dan toleransi menyebar. Begitupula dengan sebuah penyataan berisikan fatwa penyesatan terhadap sebuah kelompok berpotensi menimbulkan kejahatan massal karena pantulan efeknya. Kelak di Hari Audit nanti dakwaan-dakwaan kejutan atas pembunuhan dan perusakan bisa ditujukan kapada orang-orang yang mengabaikan butterfly effect.

HIjaber vs Akhwat

Jilbabers……… Hijabers…………..

Jilbab dikenakan agar tidak menarik perhatian, bukan malah untuk mempercantik diri. Kecantikan tidak dibangun dengan penilaian dan anggapan atau pujian. Jilbab adalah pengaman diri dari kepongahan akibat pujian dan pelecehan berbungkus rayuan. Makin tak terlihat cantik makin selamat dari narsisme.

Jilbaber sejati adalah orang yang merasa cantik karena kodrat keperempuanannya tanpa menunggu makna bahasa mata setiap yang berpapasan dengannya. Berjilbab adalah ekspresi kepatuhan dan mekanisme mengekang syahwat menunggu pujian “Duh, cantiknya!” karena cantik berbeda dengan terlihat cantik.

Banyak bule bergandengan tangan dengan wanita-wanita yang (menurut kita yang awam soal estetika) tidak cantik. Orang rasional memaknai kecantikan dari spektrum yang komplek.

Membentuk lingkaran khusus bagi pengguna jilbab dengan kriteria kecantikan visual bisa dianggap sebagai kapitalisme dan diskriminasi kelas atas nama agama. Menutup aurat adalah kesadaran moral dan agama, bukan gaya hidup yang keluar dari orbit pranata sosial, bukan seperti klub vegetarian atau pecinta Panda.

Berjilbab mestinya adalah keputusan yang diambil dengan kegembiraan spiritual, bukan cara alternatif menarik pehatian di arena kontes pamer raga

HIjaber vs Akhwat