Mohon Doa : Asa di Pergantian Usia

sad_man

Tuhanku, aku, hambaMu yang kerdil ini, menyapaMu lagi. Ia menghampiriMu dengan secuil harapan dan sekarung keluhan. Ia berlari menuju pintuMu, sebagaimana Engkau perintahkan.

Aku, sebagai salah satu aksara yang terangkai dalam lembar ‘ada’-Mu, memohon diberi stabilo dan diberi warna khusus.

Semoga Engkau mendengar jeritan nyaring di tengah gemuruh angin malam yang mendesau. Semoga para peri dan malaikatMu yang terus melakukan ronda merekam denyut nadi dan detak jantung yang bertasbih dan bertahmid padaMu.

Semoga lamunan buruk dan gamang yang menerpa dinding jiwanya terdengar cukup memilukan di telinga para jejiwa suci yang mengisi atmosvir jagadMu.

‘Wujud’-ku, betapa syahdu desiran firman dan ayat-ayat-Mu yang meneyelusup ke telinga para pendamba-Mu. Betapa sejuk elusan tanganMu yang menyentuh ubun-ubun para pengharapMu. Betapa damai bisikan kasih yang merambati hati para pengemisMu.

Kini, hambaMu yang berada di pinggir jalan, mengerahkan semua sisa tenaganya untuk melanjutkan perjalanan, mengayunkan langkah, menjejakkan kaki demi meminta secercah senyum kasihMu.

Ia terbanting-banting dalam derita akibat dosa-dosanya, membanyangkan azab dan vonisMu yang maha adil. Ia tergagap dan linglung. Jalannya gontai. Asanya nyaris terlepas. Harapannya hampir kandas. Suaranya parau. Matanya cekung memerah. Tubuhnya lemas lunglai. Ia memerlukan vaksin dan pertanda-pertanda yang mendongkrak semangat hidup, melejitkan gelora, memantik batin dan menegakkan dirinya.

Karena itu, saat angka usianya bertambah, dia mulai sadar dan dengan lancang berikrar untuk lahir kembali, bangkit lagi, dan memulai sebuah kelana imani dalam barisan para penanti “Janji”-Mu yang pasti datang.

Tak ada yang diharapkannya selain isyarat-isyarat kasihMu, maafMu, ridahaMu dan bantuanMu.

Tuanku, hadirkan suasana yang semerbak dengan ridhaMu dalam rumahtanggaku, istriku, anak-anak, ibu, adik-adikku dan semua hambaMu yang sedang kebingungan dan kadang terlihat tidak banyak beribadah karena kebodohan dan ketidakmampuan menjalin komunikasi denganMu. Siramilah mereka dengan rinai-rinai maafMu. Panjangkan umur kami dalam ketaatan. Akhirilah hidupku dalam syahadah di jalanMu, agar dosa-dosa yang banyak ini dapat lenyap, dan mendapatkan kupon untuk mengais sedikit air dari oase Kautsar-Mu, mengantongi kartu syafaat Muhammad-Mu, Ali-Mu, Zahra-Mu, dan para duplikat mereka, para nahkoda bathera keselamatan.

Pemilikku, aku tak perlu membuat daftar permohonan, karena itu sama dengan menganggapMu bukan Tuhan. Aku hanya akan meniru baris terakhir dari munajat kekasihMu, Haidar, “Lakukanlah apa yang baik bagiMu.”