Menghantar ‘Keranda Malam’

Featured

tsmem223

13 Jumadil Awal, saat surya bergeser ke arah barat sekitar pukul 1 siang, wanita yang sejak beberapa  hari lalu terbaring sakit itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ia terlihat benar-benar pulih. Dengan sigap dan gesit ia melakukan semua pekerjaan rumah yang terbengkalai, menyapu, lalu memasak dan memandingan kedua putranya yang masih kecil. Continue reading

Topeng Agama

Bupati Lamongan, tersangka korupsi: bergaya kyai di kursi pesakitan...

Bupati Lamongan, tersangka korupsi: bergaya kyai di kursi pesakitan...

Beberapa hari lalu sebuah harian memuat berita kasus korupsi. Yang menarik bukan beritanya, namun foto tersangkanya. Dia duduk di kursi pesakitan dengan mengenakan busana kyai lengkap dengan selendang peci putih. Wajahnya juga menunjukkan ekspresi “melas” yang bisa menguras iba.

Ada yang lebih dramatis. Sebagian maling berdasi itu selama masa persidangan memelihara jenggot dan menunjukkan prilaku saleh formal. Para wartawan bodrex pun mengeksposnya sesuai order. Yang lebih menjengkelkan, kadang ada ‘badut-badut’ berpakaian ala ‘superman bersorban’ bersama kru bayarannya menjenguk koruptor yang sedang uzlah di LP atau sel tahanan Kepolisian, bahkan kadang di hadapan kamera mendoakan dan menyatakan dukungan dan simpati.

Rupanya peci dan koko bukan hanya trend musiman saat menjelang pilkada dan pemilu, para terdakwa kasus korupsi uang negara pakai muslihat ‘eksploitasi simbol agama’ seraya berharap mampu mempengaruhi sisi sentimen kagamaan hakim dan menyelamatkan sisa muka yang hancur di tengah opini publik.

Tapi masyarakat kita kini makin cerdas dan tidak mudah dikelabui dengan permainan simbol-simbol agama. Korupsi yang dilakukan oleh siapapun adalah tindakan yang harus diperangi karena ia adalah kejahatan ifsad fil-ardh (perusakan di muka bumi). Karena dampaknya yang sangat luas dan bahkan mengakibatkan hilangnya nyawa, maka hukuman mati terhadap kasus-kasus besar korupsi adalah balasan yang setimpal.

Syukurlah, gugatan terhadap undang-undang hukuman mati telah ditolak MK. Itu berarti  negara perlu memberikan efek jera dengan menghukum mati kopurtor kakap.

 

Wawancara dengan Lady Gagah

Lady Gagah adalah “Miss fallacy” yang baru saja terpilih sebagai sosok yang paling alay, gaul, gagah, narsis, modis n zudez… Di sela-sela kesibukan nyedot shisha, dia menjawab pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

Setuju ngga jadi tuan rumah Miss Universe?
Walaupun di Amerik kan udah ditolak lagian bukannya sekarang Tuan Rumah Miss Universe sedang dilempar ke negara miskin dan third world karena dianggap basi ama Amerikanya sendiri, Indonesia sih pasti seneng dan bangga banget jadi buangan tuan rumah Miss Universe! Kan ini negara ganjen n latah.

Suka baca novel populer dunia?
Jangan khawatir! Gramedia belum buka, ratusan abg dan cewek-cewek –sebagian malah berjilbab rela ngantri untuk mendapatkan predikat pembeli pertama novel Harry Potter yang belum tentu dipahami alurnya, tapi demi “gaul” harus ditenteng (bahan untuk pamer)….

Pernah melihat (atau merasakan sendiri) sekelompok anak muda minum bir?
Weekend rutin di Circle K dan Seven Eleven! Every single store! Wine itu symbol gaul, bo…

Narkoba?
Ngerokok, okelah… Tapi drug, no way, not civilized

Pengen kawin sama bule?
Yoi… Kan kita masih berevolusi menuju yang “sempurna” getto loooh! Continue reading

Menjadi ‘Tangan Allah’

Suatu hari seorang Badui Arab datang kepada  Husain bin Ali, cucu Nabi Saw.

“Aku memiliki hutang yang aku tidak dapat bayar. Aku datang kepada Anda untuk meminta bantuan karena aku telah mendengar kemuliaan dan kepemurahan Anda,” katanya sesaat setelah mengucapkan salam.

Al-Husain tersenyum lalu balik bertanya, “Aku akan mengajukan tiga pertanyaan kepadamu. Jika kau dapat menjawab pertanyaan pertama, aku akan memberikan uang untuk membayar sepertiga hutangmu. Jika kau menjawab pertanyaan kedua, aku akan memberikan sepertiga yang lainnya. Jika kau dapat menjawab ketiga pertanyaan dengan benar, aku akan memberikan uang yang kau perlukan untuk membayar semua hutangmu.” Continue reading

Qommi: Maju Kena, Mundur Apalagi..? (bagian 1)

Selain ‘kesayyidan’ dan WF, masalah ‘Qomiyin’ merupakan salah satu hot issue sepanjang sejarah komunitas AB di Indonesia. Entah, bagaimana asal muasalnya, yang jelas, seorang yang ketiban predikat ‘alumni Qom’ berada di antara dua sisi ekstrem, dipuja-puja secara berlebihan dan dicemooh dan dibenci secara habis-habisan. Ini benar-benar menyesakkan dada. Kadang malah saya menyesali masa lalu bila membandingkan untung dan ruginya. Salah satu penyebab situasi ini, lagi-lagi adalah generalisasi dari suatu peristiwa negatif atau komunikasi yang buntu (bahasa halusnya) dan tidak tersedianya waktu untuk klarifikasi dan silaturahmi.

Paragraf-paragraf di bawah ini hanyalah analisa yang subjektif dari salah seorang yang ‘ketiban’ predikat ini. Mohon dimaklumi dan dimaafkan bila kurang ‘ilmiah’ atau kurang santun. Continue reading